Mengapa Minat Baca Rendah ?

Mengapa minat baca di masyarakat Indonesia begitu rendah ? Alasan pertama adalah faktor budaya. Oral culture (budaya lisan) masih kuat berakar di bumi Indonesia. Budaya ngomong, atau juga asal ngomong, masih sering terlihat di masyarakat. Orang lebih sering ngobrol dari pada membaca. Tidak sedikit orang lebih terbiasa melempar gosip/isu atau juga ngrasani dari pada membaca. Banyak orang lebih suka mendengarkan orang “berpidato” (berceramah, bercerita, dalang wayang kulit, dsb.) dari pada membaca. Anehnya, orang yang suka dan serius membaca, misalnya di kendaraan umum, kadang dianggap sok pinter, sok ilmiah, dan sombong.
Persaingan antara buku dengan televisi adalah alasan kedua mengapa minat baca kita rendah. Dengan banyaknya saluran TV, orang akan senang berpindah-pindah saluran untuk memilih acara terbaik yang dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. TV, video, dan film sangat menjanjikan hiburan-hiburan yang menyenangkan. TV jauh lebih disenangi masyarakat luas dari pada buku. Orang lebih senang menonton TV dari pada membaca buku.
Alasan ketiga adalah jumlah buku yang diterbitkan tiap tahun yang relatif sedikit. Alfons Taryadi, dalam suatu makalahnya yang berjudul Indonesia Book Industry (1995), menyebutkan bahwa jumlah buku yang diterbitkan tiap tahun di Indonesia sekitar 5000 buku. Padahal di Jepang dapat mencapai 100.000 buku per-tahun atau 20 kali lipat dari pada Indonesia. Kebanyakan buku-buku yang diterbitkan di Indonesia adalah buku-buku paket (buku pegangan pelajaran). Industri penerbitan buku di Indonesia belum dapat secara maksimal memenuhi kebutuhan materi akademis di Perguruan Tinggi. Penerbitan buku yang minim di Indonesia juga didukung dengan sedikitnya para pakar yang bersedia menulis.
Sistem pendidikan di Indonesia juga kurang mendukung reading and writing interest yang tinggi. Metode pengajaran di kelas kurang memotivasi pelajar atau mahasiswa untuk aktif mencari buku di perpustakaan dan giat membacanya. Pelajar atau mahasiswa hanya “diceramahi”, digiring untuk hanya menyimak buku paket (diktat), tetapi tidak “dipaksa” untuk melacak buku di perpustakaan dan tidak pula diberi tugas untuk membaca serta merangkum sebuah buku. Guru kadang menjadi seorang “diktator”, hanya mengacu pada buku diktat.
Alasan lain mengapa tidak biasa membaca adalah karena motivasi berprestasi dan rasa ingin tahu (curiousity) yang rendah. Motivasi merupakan hal yang terpenting dalam budaya baca. Jika motivasi berprestasi tinggi maka usaha untuk maju akan maksimal, termasuk dalam usaha membaca. Rasa ingin tahu yang tinggi akan mendukung minat baca.
Untuk mengatasi masalah tersebut di atas, guru harus bertanggung jawab. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru adalah : menyediakan daftar buku bacaan yang berkaitan dengan mata pelajaran (Sebelum mengajar seorang guru harus menyiapkan buku-buku rujukan mata pelajaran yang disampaikan), memberi anak didik tugas-tugas membaca dan meringkas isi buku yang dibaca (Anak didik diminta mengumpulkan tugas tersebut), memberitahu perpustakaan tentang buku-buku pelajaran wajib (guru perlu menjalin kerja sama yang baik dengan perpustakaan), memberi penghargaan pada anak didik yang rajin membaca (penghargaan bisa berupa sanjungan, nilai yang baik, atau hadiah buku bacaan), dan menjadi teladan bagi anak didik dalam hal membaca. Dalam hal ini guru juga harus rajin membaca. Mereka harus rajin ke perpustakaan atau membeli buku (jika uang cukup). Lebih ideal jika guru mempunyai perpustakan pribadi.
Orang tua di rumah juga mempunyai tanggung jawab untuk mewujudkan minat baca-tulis bagi anak-anaknya. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah menyediakan buku, majalah, atau koran di rumah sebagai sumber bacaan, menjadi contoh bagi anak-anaknya dalam hal membaca, mengatur jadwal televisi sehingga anak mempunyai waktu untuk membaca di rumah, mendorong anak-anak untuk mencintai buku dan perpustakaan yaitu dengan cara sering mengajak ke toko buku (dari pada toko mainan) atau ke perpustakaan (dari pada pusat permainan video game ).
Perpustakaan sebagai information centre merupakan “panglima” dalam memberantas kemalasan membaca. Dengan kata lain, perpustakaan menjadi tonggak pokok dalam mempromosikan budaya baca. Beberapa upaya dalam pengembangan budaya baca yang harus dilakukan oleh perpustakaan, antara lain, mempromosikan perpustakaan dan minat baca, mengadakan lomba membaca dan pameran buku, kampanye pengumpulan buku, mengorganisasi kelompok pecinta buku, meneliti minat baca masyarakat, meminta pemerintah, penerbit, dan organisasi sosial / keagamaan untuk menyumbang buku ke perpustakaan, dan sebagainya.

Budaya Baca dalam Perspektif Islam

Al-Quran yang berasal dari kata kerja qara’a – yaqrau (membaca) berarti “bacaan”. Wahyu al-Quran yang pertama kali turun adalah surat al-’Alaq (segumpal darah) ayat 1 – 5:

1.Iqra’ bismi rabbikal-ladzii khalaq – bacalah ! dengan (menyebut, atas) nama Tuhanmu yang menciptakan

2. Khalaqal-insaana min ‘Alaq – menciptakan manusia dari segumpal darah

3. Iqra’ wa rabbukal-akram – bacalah !, dan Tuhanmulah yang paling pemurah

4. Alladzii ‘allama bil-qalam – yang mengajari (manusia) dengan perantaraan qalam / pena

5. ‘Allamal insaana maa lam ya’lam – yang mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya

Kata iqra’, yang terdapat dalam ayat 1, adalah kata kerja perintah yang berarti “bacalah”. Sesungguhnya kata iqra’ berasal dari kata qara’a yang pada mulanya berarti “menghimpun”. Dalam kamus bahasa Arab ternyata kata iqra’ tersebut mempunyai banyak arti yaitu menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan sebagainya, yang kesemuanya bermuara pada arti “menghimpun”, yaitu menghimpun rangkaian kata-kata, huruf-huruf, atau ide-ide. Hal ini menunjukkan bahwa kata iqra’ mempunyai arti yang luas, tidak sekedar membaca secara tekstual tetapi juga membaca secara kontekstual (membaca situasi) yang berarti kata iqra’ bukan mengharuskan ada suatu teks tertulis sebagai obyek baca, bukan pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain.
“Bacalah ! atas nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah” (ayat 1 dan 2). Dua ayat ini menjelaskan bahwa membaca, secara tekstual maupun kontekstual, harus dilakukan karena Tuhan, atas nama Tuhan. Dengan demikian, aktivitas membaca dapat bernilai ibadah, yaitu pengabdian kepada Tuhan. Abdul Halim Mahmud (mantan Syaikh Universitas al-Azhar Mesir) menafsirkan ayat tersebut, sebagaimana dikutip oleh M. Quraish Shihab, dengan menyatakan :
Dengan kalimat iqra’ bismi rabbik, al-Quran tidak sekedar memerintahkan untuk membaca, tetapi “membaca” adalah dari segala yang dilakukan manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan jiwanya ingin menyatakan “Bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu”. Demikian juga apabila Anda berhenti bergerak atau berhenti melakukan sesuatu aktivitas, maka hendaklah hal tersebut juga didasarkan pada bismi rabbik. Sehingga pada akhirnya ayat tersebut berarti “Jadikanlah seluruh kehidupanmu, wujudmu, dalam cara dan tujuannya, kesemuanya demi Allah” (Shihab, 1997:82).

“Bacalah ! dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajari (manusia) dengan perantaraan qalam / pena, yang mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya” (ayat 3, 4, dan 5). Ayat-ayat tersebut, selain memerintah untuk membaca, juga menjelaskan bahwa Tuhanlah yang Maha Pemurah, yang memberi pengetahuan dengan perantara pena kepada seluruh manusia tentang apa saja yang tidak diketahuinya. Hal ini berarti juga mengandung perintah untuk membudayakan kegiatan baca-tulis dalam kehidupan manusia, sedangkan kegiatan tersebut merupakan kegiatan utama dalam pencarian ilmu pengetahuan. Dalam hal ini Muhammad Quraish Shihab (mantan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta) mengatakan :
Sehingga ayat tersebut berarti “Dia (Allah) mengajarkan dengan pena (tulisan) hal-hal yang telah diketahui manusia sebelumnya dan Dia mengajarkan kepada manusia (tanpa pena) apa yang belum diketahui sebelumnya”. Kalimat “yang telah diketahui sebelumnya” disisipkan karena isyarat pada susunan kedua, yaitu “yang belum (tidak) diketahui sebelumnya”. Sedang kalimat “tanpa pena” ditambahkan karena adanya kata “dengan pena” dalam susunan pertama. Yang dimaksud dengan ungkapan “telah diketahui sebelumnya” adalah khazanah pengetahuan dalam bentuk tulisan (Shihab, 1997:100).

Dalam al-Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdul Barri, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Thalabul-ilmi fariidhotun ‘alaa muslimin wa muslimaatin” (mencari ilmu itu wajib bagi orang Islam laki-laki dan perempuan). Dalam al-Hadits lain yang diriwayatkan oleh Baihaqi, beliau juga bersabda, “kun ‘aaliman aw muta’alliman aw mustami’an aw muhibban wa laa takun khaamisan fatahlik” (Jadilah kamu orang yang mengajar atau belajar atau pendengar (mendengarkan ilmu) atau pecinta (mencintai ilmu), dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima (artinya tidak mengajar, tidak belajar, tidak mendengar, dan tidak mencintai ilmu), maka kamu akan hancur. Nabi terakhir tersebut bersabda pula dalam al-Hadits lain yang diriwayatkan oleh Thabrani, “Man araadad-dunya fa’alaihi bil’ilmi wa man araadal-aakhirata fa’alaihi bil’ilmi wa man araadahuma fa’alaihi bil’ilmi” (barang siapa menghendaki kebahagiaan dunia maka wajib atasnya mengetahui ilmunya, dan barang siapa yang menghendaki kebahagiaan akhirat maka wajib baginya untuk mengetahui ilmunya, dan barang siapa menghendaki kebahagiaan keduanya maka wajib baginya untuk mengetahui ilmunya). Sedangkan al-Quran menyatakan, yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (surat al-Mujadilah (58) ayat 11).
Perintah sejak14 abad yang lalu untuk mencari ilmu tersebut juga merupakan perintah untuk membaca dan menulis. Setiap orang yang mencari ilmu tidak akan terlepas dari kegiatan baca-tulis. Ilmu diperoleh salah satunya dengan cara membaca dan menulis, cara lain misalnya diskusi, tanya-jawab, praktik, dan pengalaman. Ilmu dapat memberi manfaat tidak hanya di dunia sekarang tetapi juga di akhirat kelak. Salah satu manfaat ilmu di dunia adalah untuk mencari nafkah, sedangkan manfaat di akhirat adalah sebagai jalan menuju surga. Nabi Muhammad saw, dalam al-Hadits riwayat Dailami, menyatakan, “Likulli syaiin thariiqun wa thariiqul-jannati al-ilmu” (segala sesuatu ada jalannya, dan jalan ke surga ialah ilmu).
Buku merupakan bahan bacaan yang utama. Selain itu, buku merupakan alat para sarjana untuk mentransmisi ilmu pengetahuan. ‘Abd. Al-Basith bin Musa Al-Almawi (wafat tahun 1573), seorang ilmuwan Muslim, telah menulis buku berjudul Mu’id fii Adab Al-Mufid wa Al-Mustafid yang membahas tentang buku.Khususnya dalam hal teknik transmisi tertulis ilmu pengetahuan, dia menyatakan (Rosenthal, 1996:24-49) :

1. Buku dibutuhkan dalam semua usaha kesarjanaan yang bermanfaat

2. Al-Hadits yang menyatakan, “Rahmat pertama yang diperoleh oleh orang yang sibuk menyampaikan hadits adalah kenyataan bahwa dia mempunyai kesempatan untuk meminjamkan buku kepada orang lain”. Hadits lain mengungkapkan, “Barang siapa yang kikir dengan ilmu, hendaklah dia mengharapkan tiga bencana, yaitu dia mungkin lupa akan ilmunya, atau dia mati tanpa sempat memanfaatkan ilmunya, atau dia mungkin akan kehilangan buku-bukunya”.

3.Koreksi-koreksi dalam sebuah buku milik orang lain hanya boleh dilakukan atas izin pemiliknya.

4.Seorang penyalin buku yang menyalin penggalan-penggalan dari buku tentang masalah agama (syar’i) harus suci dari hadas dan menghadap kiblat. Badan, pakaian, tinta, serta kertas yang digunakannya harus bersih. Pernyataan ini mesti dipahami secara harfiah dan bukan berarti si-penyalin harus seorang Muslim.

5.Seorang pelajar harus mencurahkan perhatian lebih banyak kepada ketepatan dan kebenaran apa yang ditulisnya dari pada mutu tulisan tangannya.

6.Para otorita keagamaan tidak menyetujui memisahkan susunan genetif yang mengandung nama Allah, semisal ‘Abd Allah, ‘Abd Ar-Rahman, atau Rasul Allah. Jelek sekali kelihatannya jika menemukan kata ‘Abd atau Rasul tertulis di ujung baris dan kata Allah atau Ar-Rahman (atau Rasul) di awal baris; konsekuensinya pemisahan ini tidak boleh dilakukan.

7. Salinan sebuah manuskrip harus dibandingkan dengan naskah lain (ashl – asli) yang diketahui sebagai benar dan handal.

8. Setelah dikoreksi dan dijelaskan, penggalan yang meragukan dan tak pasti pembacaannya harus diindikasikan dengan shahhah kecil yang dituliskan di atasnya.

9. Kata-kata ang berlebihan atau yang ditulis dengan tidak benar harus dikoreksi.

10. Sebuah bulatan atau titik tebal yang dibuat dengan pena hendaknya digunakan untuk memisahkan berbagai cerita atau hadist yang tercantum dalam manuskrip.

[1] Drs. M. Muhtar Arifin Sholeh, M.Lib. adalah Kepala UPT Perpustakaan Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), Dosen di Fakultas Agama Islam UNISSULA Semarang, dan alumni the Department of Information and Library Studies, University of Wales United Kingdom (1994).

~ oleh Vandi Al-faqir pada 10/03/2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: