‘Iffah Sebuah Kehormatan Diri’


Persaingan hidup yang semakin tinggi dan keras banyak memunculkan perilaku umat yang melanggar batasan syariat. Bila perbuatan suka meminta-minta sudah bisa menyebabkan kemuliaan seseorang jatuh maka yang lbh berat dari sekedar meminta-minta seperti korupsi mencuri merampok dsb. lebih menghinakan pelakunya. Namun toh perbuatan tersebut semakin banyak dilakukan. Termasuk marak perilaku kaum wanita hanya demi menginginkan enak hidup mereka rela melakukan perbuatan yang menghilangkan kemuliaan mereka. Padahal agama ini telah menuntunkan agar mereka senantiasa menjaga kemuliaan diri mereka.

‘Iffah sebuah kata yang pernah atau biasa kita dengar. Si Fulan ‘afif atau si Fulanah ‘afifah merupakan sebutan bagi lelaki dan wanita yang memiliki ‘iffah. Lalu apa sebenar yang dimaksud dgn ‘iffah itu ???

Secara bahasa ‘iffah adl menahan. Adapun secara istilah; menahan diri sepenuh dari perkara-perkara yg Allah haramkan. Dengan demikian seorang yang ‘afif adalah orang yang bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan walaupun jiwa cenderung kepada perkara tersebut dan menginginkannya. Allah swt berfirman:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِيْنَ لاَ يَجِدُوْنَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ

“Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian diri sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.”

Termasuk dlm makna ‘iffah adalah menahan diri dari meminta-minta kepada manusia. Allah swt berfirman:

يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ

“Orang yg tdk tahu menyangka mereka itu adl orang-orang yang berkecukupan karna mereka ta’affuf .”

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa orang-orang dari kalangan Anshar pernah meminta-minta kepada Rasullah saw. Tidak ada seorang pun dari mereka yang minta kepada Rasulullah saw melainkan beliau saw berikan hingga habislah apa yang ada pada beliau saw. Rasulullah saw pun bersabda kepada mereka ketika itu:

مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لا أدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّه مَنْ يَسْتَعِفّ يُعِفّه اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرُ يُصَبِّرَهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Apa yang ada padaku dari kebaikan tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguh siapa yang menahan diri dari meminta-minta maka Allah akan memelihara dan menjaga dan siapa yang menyabarkan diri dari meminta-minta maka Allah akan menjadikan sabar. Dan siapa yang merasa cukup dgn Allah dari meminta kepada selain-Nya mk Allah akan memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” 1

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Dalam hadits ini ada anjuran untuk ta’affuf qana’ah dan bersabar atas kesempitan hidup dan selain dari kesulitan di dunia.”

Menjadi wanita yang ‘afifah

Bila seorang muslim dituntut untuk memiliki ‘iffah maka demikian pula seorang muslimah. Hendak ia memiliki ‘iffah sehingga ia menjadi seorang wanita yang ‘afifah karna akhlak yang satu ini merupakan akhlak yang tinggi mulia dan dicintai oleh Allah swt. Bahkan akhlak ini merupakan sifat hamba-hamba Allah yang shalih yang senantiasa menghadirkan keagungan Allah dan takut akan murka dan azab-Nya. Ia juga menjadi sifat bagi orang-orang yang selalu mencari keridhaan dan pahala-Nya.

Berkaitan dengan ‘iffah ini maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh seorang muslimah untuk menjaga kehormatan diri di antaranya:

Pertama: Menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluannya. Allah swt berfirman:

وَقٌلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: Hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka…”

Asy-Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata: “Allah swt memerintahkan kaum mukminin dan mukminat untuk menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka. Termasuk menjaga kemaluan adalah menjaga dari perbuatan zina liwath dan lesbian dan juga menjaga dengan tidak menampakkan dan menyingkap di hadapan manusia.”

Kedua: Tidak bepergian jauh sendirian tanpa didampingi mahram yang akan menjaga dan melindungi dari gangguan. Rasulullah saw bersabda:

لاَ تُسَافِر امرَأَةٌ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Tidak boleh seorang wanita safar kecuali didampingi mahramnya.”

Ketiga: Tidak berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahramnya. Karena bersentuhan dengan lawan jenis akan membangkitkan gejolak di dalam jiwa yang akan membuat hati itu condong kepada perbuatan keji dan hina.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah berkata: “Secara mutlak tidak boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram sama saja apakah wanita itu masih muda ataupun sudah tua. Dan sama saja apakah lelaki yang berjabat tangan dengan itu masih muda atau kakek tua. Karena berjabat tangan seperti ini akan menimbulkan fitnah bagi kedua pihak. ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu berkata tentang teladan kita :

مَا مَسَتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَ امْرَأَةٍ إِلاَّ امْرَأَةً يَمْلِكُهَا

“Tangan Rasulullah saw tidak pernah menyentuh tangan wanita kecuali tangan wanita yang dimiliki .”

Tidak ada perbedaan antara jabat tangan yg dilakukan dgn memakai alas/penghalang ataupun tanpa penghalang. Karena dalil dalam masalah ini sifat umum dan semua ini dalam rangka menutup jalan yang mengantarkan kepada fitnah.”

Keempat: Tidak khalwat dengan lelaki yang bukan mahram. Rasulullah saw telah memperingatkan dalam titah yang agung:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَ مَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ

“Tidak boleh sama sekali seorang lelaki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali bila bersama wanita itu ada mahramnya.”

Kelima: Menjauh dari hal-hal yang dapat mengundang fitnah seperti mendengarkan musik nyanyian menonton film gambar yang mengumbar aurat dan semisalnya.

Seorang muslimah yang cerdas adalah yang bisa memahami akibat yang ditimbulkan dari suatu perkara dan memahami cara-cara yang ditempuh orang-orang bodoh untuk menyesatkan dan meyimpangkannya. Sehingga ia akan menjauhkan diri dari membeli majalah-majalah yang rusak dan tidak berfaedah dan ia tidak akan membuang harta untuk merobek kehormatan diri dan menghilangkan ‘iffah-nya. Karena kehormatan adalah sesuatu yang sangat mahal dan ‘iffah- adalah sesuatu yang sangat berharga.

2. Memang usaha yang dilakukan untuk sebuah ‘iffah bukanlah usaha yang ringan. Butuh perlu perjuangan jiwa yang sungguh-sungguh dengan meminta tolong kepada Allah swt. Allah swt telah menyatakan:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguh Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

1 Lihat: – Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an Al-Imam Al-Qurthubi 3/221.

– Makarimul Akhlaq Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 149 152.

– Fathul Bari 11/309 311

– Al-’Iffah Madhahiruha wa Tsamaruha hal. 4
2 Lihat: – Lin Nisa-i Faqath Asy-Syaikh Abdullah bin Jarullah Alu Jarillah hal. 60-75.
– Al-’Iffah hal. 8-10

~ oleh Vandi Al-faqir pada 28/02/2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: