Kemasyarakatan

<!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>

Terciptanya suatu tatanan masyarakat yang saling bahu membahu, saling
tolong menolong bersatu padu dalam segala keadaan bak satu bangunan yang
saling melengkapi dan menguatkan adalah cita-cita setiap orang. Dan syari’at
Al Qur’an jauh-jauh hari telah mengajarkan berbagai kiat dan metode yang
amat efektif dalam menciptakan tatanan masyarat indah tersebut.
Diantara bukti bahwa syari’at Al Qur’an amat memperhatikan dan telah
mengatur sedemikian rupa agar tercipta suatu tatanan masyarakat idaman ialah
firman Allah Ta’ala berikut ini,
 “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karibkerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan
tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri.” (QS. An Nisa’ 36)
Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam pernah mengisahkan bahwa Malaikat
Jibril ’alaihissalam amat sering berpesan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi
wasallam agar berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai Nabi shollallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
ما زال يوصيني جبريل بالجار حتى ظننت أنه سيورثه
“Terus-menerus Malaikat JIbril berpesan kepadaku tentang tetangga, sampaisampai
aku mengira ia akan membawakan wahyu yang memerintahkan aku
agar menjadikan tetangga sebagai ahli waris.” (HR. Bukhari)
Dan pada hadits lain beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
والله لا يؤمن والله لا يؤمن والله لا يؤمن. قيل: ومن يا رسول الله؟ قال: الذي لا يأمن جاره بوائقه
“Sungguh demi Allah tidaklah beriman, sungguh demi Allah tidaklah beriman,
Sungguh demi Allah tidaklah beriman. Maka ditanyakankepada beliau,
Siapakah orang itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Orang yang
tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari)
Syari’at Al Qur’an bukan hanya sekedar mengajari umatnya untuk menjaga diri
dari segala yang mengganggu tetangga, akan tetapi juga memerintahkan agar
kita berperi laku baik dengan mereka, masing-masing sesuai dengan
kemampuannya, sebagaimana yang ditegaskan pada ayat di atas, dan juga
dalam sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:
ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia
memuliakan tetangganya.” (HR. Muslim)
Dan salah satu contoh nyata yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wasallam ialah mengizinkan tetangga kita untuk ikut
memanfaatkan halaman atau dinding rumah atau pagar rumah kita, misalnya
dengan ikut meletakkan atau menyandarkan kayunya di dinding kita atau yang
serupa. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لا يمنع جار جاره أن يغرز خشبه في جداره
“Janganlah seorang tetangga melarang tetangganya yang hendak
menyandarkan kayunya di dinding miliknya.” (HR. Bukhari)
Diantara faktor yang menjadikan masyarakat yang menjalankan syari’at Al
Qur’an menjadi indah, tentram, damai dan sejahtera dan makmur ialah
disyari’atkannya amar ma’ruf nahi mungkar, sebagaimana firman Allah Ta’ala
berikut ini,
 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar;
mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
Dengan syari’at amar ma’ruf nahi mungkar inilah masyarakat muslim dapat
mencegah terjadinya berbagai kejahatan dan kerusakan dalam berbagai aspek
kehidupan mereka. Dan dengan syari’at amar ma’ruf dan nahi mungkar mereka
dapa terhindar dari berbagai bencana alam, musibah, wabah penyakit dan
krisis dalam berbagai hal.
Pada suatu hari Zaenab bin Jahesy bertanya kepada Rasulullah shollallahu
‘alaihi wasallam,
يا رسول الله ألك وفينا الصالحون؟ قال: نعم إذا كثر الخبث
“Ya Rasulullah, apakah kita akan dibinasakan, padahal di tengah-tengah kita
terdapat orang-orang sholeh? Beliau menjawab, Ya, bila telah banyak pada
kalian orang-orang jelek.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Dan pada hadits lain, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
والذي نفسي بيده، لتأمرن بالمعروف ولتنهون عن المنكر، أو ليوشكن الله أن يبعث عليكم عذابا منه ثم
تدعونه فلا يستجيب لكم
“Sungguh demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh kalian
memerintahkan dengan yang ma’ruf (baik) dan mencegah dari yang mungkar,
atau tak lama lagi Allah akan mengirimkan kepada kalian azab dari sisi-Nya,
kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan Ia tidak mengabulkannya.” (HR. At
Tirmizi dan dihasankan oleh Al Albani)
Dan pada hadits lain Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مثل القائم على حدود الله والواقع فيها كمثل قوم استهموا على سفينة فأصاب بعضهم أعلاها وبعضهم
أسفلها فكان الذين في أسفلها إذا استقوا من الماء مروا على من فوقهم فقالوا لو أنا خرقنا في نصيبنا
خرقا ولم نؤذ من فوقنا فإن يتركوهم وما أرادوا هلكوا جميعا وإن أخذوا على أيديهم نجوا ونجوا جميعا
“Permisalan orang-orang yang menegakkan batasan-batasan (syariat) Allah
(beramar ma’ruf dan nahi mungkar-pen) dan orang-orang yang melanggarnya,
bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal/bahtera,
sehingga sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal
tersebut, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya, sehingga yang
berada dibagian bawah kapal bila mengambil air, maka pasti melewati orangorang
yang berada diatas mereka, kemudian mereka berkata, Seandainya kita
melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu
orang-orang yang berada di atas kita. Nah apabila mereka semua membiarkan
orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua
akan binasa, dan bila mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka
telah menyelamatkan orang-orang tersebut, dan mereka semuapun akan
selamat.” (HR. Bukhari)
Inilah kunci kedamaian, keamanan, kemakmuran dan terhindarnya kita semua
dari berbagai musibah, bencana alam, petaka, paceklik dan berbagai wabah,
yaitu dengan menegakkan amar ma’ruf, sehingga perbuatan baik dan amal
sholeh memasyarakat dan juga menegakkan nahi mungkar, sehingga
kemungkaran dan kemaksiatan dapat diperangi dan dikikis habis. Pada hadits
lain Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يعلنوا ا إلا فشا فيهم الطاعون و الأوجاع التي لم تكن مضت في
أسلافهم الذين مضوا و لم ينقصوا المكيال و الميزان إلا أخذوا بالسنين و شدة المؤنة و جور السلطان
عليهم و لم يمنعوا زكاة أموالهم إلا منعوا القطر من السماء و لولا البهائم لم يمطروا
“Tidaklah pernah perbuatan zina merajalela di suatu masyarakat hingga mereka
berani untuk melakukannya dengan terang-terangan, melainkan akan
merajalela pula di tengah-tengah mereka berbagai wabah dan penyakit yang
tidak pernah ada di orang-orang yang terdahulu. Tidaklah mereka berbuat
kecurangan dalam hal timbangan dan takaran, melainkan mereka akan ditimpa
paceklik, biaya hidup yang tinggi, dan kelaliman para penguasa. Tidaklah
mereka menahan zakat harta mereka, melainkan mereka akan dihalang-halangi
dari air hujan yang datang dari langit, dan seandainya bukan karena binatang,
niscaya mereka tidak akan dihujani…” (HR. Ibnu Majah, Al Hakim, Al Baihaqi
dan dishahihkan oleh Al Albani)
Oleh karena itu hendaknya kita kaum muslimin Indonesia menghidupkan dan
menggalakkan syari’at ini agar masyarakat kita dapat terhindar dari berbagai
petaka dan musibah yang melanda bangsa dan negri kita, dan kesejahteraan
serta kedamaian dapat terealisasi di negeri kita.

~ oleh Vandi Al-faqir pada 11/03/2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: