Tangisan seorang lelaki

Hampir ku tangisinya Ya Allah. Tidak! Sekali-kali tidak, aku tidak akan benarkan tangisan ini ditumpahkan lagi. Cukuplah ia pernah berderai dahulu,tidak lagi sekarang ,mata ini juga perlukan kerehatan. Benar, sukar sekali mata seorang lelaki untuk menangisi sesuatu ya Rahman. Apakah untuk meratapi sesuatu dihadapan manusia .Kerana diri ini tetap seorang lelaki ,yang punyai egonya sendiri.’’

“Namun wahai Tuhanku,aku tidak mampu mengalah dari pinta hati ini ya Allah. Hanya Engkau dan aku yang mengetahui kesakitan ,jerit tawa,senyumnya,dukanya dan pilunya Ya Allah. Oleh kerana Engkau saja yang membelai hati ini wahai Pemilik hati, izinkan aku adukan pada-Mu kesakitan hati ini.’’

Allah,aku kehilangan…
Diari hamba Mu..–/–/—,———-

Saat kau disisi,aku tersenyum ,malah tiada senyuman semanis ini dpt aku ukirkan selain diwaktu disisimu,walau ia bukanlah terukir dibibir ini ,namun ku merasakan kemanisannya. Sungguh! Di dasar hati yang tidak pernah diketahui oleh siapapun melainkan aku dan Dia. ketika itu kau membelai-belai jiwa ini ,bahkan kau genggam hati ini agar ia tidak berbolak balik lagi. Aku merasakan kenikmatanya. Dunia ini tiada apa bagiku bila kau disisi. Hari-hari ku penuh dengan kebahagian walaupun ketika itu aku ditekan ,aku dicerca dan aku dihina. Tapi kau pun tahu,selagi kau disisi,semua itu tidak berarti bagiku..Tapi,itu dulu..

Ingatkah kau di malam itu? Aku termenung,lembaran langsir ku buka dan ku tatapi wajah bulan. Ku tatapi wajah bintang.

‘Hai bulan..tidakkah kau pernah menangis? Tidakkah kau pernah bersedih? Tidakkah pernah berasa sengsara menanggung derita?
‘Hai bintang..kan best kalau aku jadi kau. Tiada duka,tiada sengsara ..Pasti hidup kau gembira kan?..’
Namun bulan dan bintang membisu..aku pun turut membisu dan kau juga terus membisu waktu itu sambil memandangku penuh sayu..malangnya,kelibat dirimu kabur dimataku detik itu..

Untukmu,
Tahukah engkau, aku merindukan sesuatu.Aku terasa kekosongan dalam diriku.Setiap langkahku menuju ke pondok pesantren, renungan ku di papan putih semuanya pura-pura, sedangkan fikiranku entah melayang ke mana. Aku membujuk jiwaku agar memberikan haknya kepada seluruh panca indraku. Namun ku tidak mampu. Aku rindu..Aku rindukan dirimu..Rindukan belaian mu..
Memang benar,aku akui ini semua salahku,semua ini bermula dari diriku yang hina ini. Aku tidak pernah memberikan yang terbaik untukmu. Dulu aku bersungguh-sungguh ingin mendapatkan mu. Aku tahu sahabat-sahabat ku juga berusaha untuk mendapatkan dirimu.Untuk dirimu yang berharga,ku korbankan segala galanya. Harta,tenaga dan jiwa,semua adalah untukmu..kerana aku sgt menyayangmu..

Aku juga teringat akan peristiwa-peristiwa kita dahulu..

Merisik
Waktu itu kusingkapi tirai hidupmu,aku ingin mengenali siapakah dirimu sebenarnya,tempat tinggalmu,keluargamu,teman-temanmu..Aku tanyakan pada sahabat-sahabatku yang pernah mengenalimu.Mereka juga ingin mengenalimu dirimu. sulitnya,aku gembira karena mereka juga seperti aku. Benarlah,dirimu umpama mutiara yang tersimpan didasar lautan. Perlu diselam ,perlu tenggelam. Siapa yang lebih mendambakanmu,pasti berusaha kearah itu. Aku ingin menjadi salah seorang darinya.

Meminang
Setelah itu, aku yakin…Aku pasti..kau tercipta untukku. Alhamdulillah,pinanganku diterima olehmu. Aku mulai merasakan kebahagiannya. Tidak sabar ingin menjadikan dirimu teman hidupku. Teman yang akan memegang hati kecilku ketika ku jatuh,teman yang akan mengingatkan ku pada bila saat aku perlukanmu.

itu semua dulu..
Tapi bila berlalunya waktu, dalam tidak ku sadari aku tidak lagi menyayangimu, tidak lagi membelaimu, tidak lagi bertanyakan kabarmu..Bahkan tidak lagi memberikan semangat dan kekuatan padamu seperti dulu di waktu kau menerima pinanganku. Hajatku untuk menjadikan kau teman hidupku pudar begitu saja. Segala persiapan dan perancangan hanya tinggal sebuah dongengan. Malah,hinanya diri ini, aku tidak mendengar setiap teguranmu, bahkan kadang-kadang aku memarahi dirimu yang suci itu. Sehingga aku merasakan kau tidak lagi perlu disisiku. Kau hanyalah burung yang singgah dikamar hatiku ketika musimnya. Bila tiba waktunya, aku perlukanmu,tapi bila musimnya berlalu,engkau ku halau dari menganggu di diari hidupku. Entah berapa kali agaknya jiwamu dirobek-robek oleh kelakuan sang binatang sepertiku. Seringkali juga aku rasakan yang kau ingin lagi menyentuh hati ini,kau ingin mencintai hati ini. Tapi,seringkali juga aku menjadi api,menjauhi dan terus menjauhi..

Kini,kau pergi..

‘Nisa,berilah aku sekali lagi peluang melamarmu,
Aku perlukanmu ,aku rindukanmu.
Sudikah kau menjadi teman hidupku?
Untuk selama-lamanya?’

~ oleh Vandi Al-faqir pada 03/12/2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: