cinta tak pernah meminta untuk menanti

Naila berjalan perlahan memasuki pekarangan Pondok Pesantren Ikhwan Al-Munawaroh. Dia membetulkan letak cadarnya dan mengamati sekeliling. Aman, suasana sepi. Segera dia mempercepat langkah menuju rumahnya.

Naila adalah putri Ustadz Jamaluddin, pemilik pondok Al-Munawaroh. Dia adalah anak kedua dari dua bersaudara. Karena Al-Munawaroh merupakan pondok pesantren ikhwan, sejak masuk bangku SMP, Naila dititipkan di rumah adik abinya di daerah Jogjakarta. Sebulan sekali, Naila pulang ke Al-Munawaroh yang terletak di pinggiran kota Solo. Kali ini ia pulang agak kesorean. Biasanya ba’da dhuhur ia sudah tiba di Al-Munawaroh.

Naila terus mempercepat langkahnya melewati pekarangan pondok dan mengucap salam begitu sampai di depan rumahnya. “Assalamu’alaikum,” seru Naila.

“Wa’alaikumussalam” sebuah suara menjawab salamnya. Suara Furqon, kakak semata wayangnya.

“Kok baru sampai..?” tanya Furqon sambil membuka pintu dan segera menutupnya kembali begitu Naila masuk.

“Ada kuliah tambahan di kampus, Mas.” kata Naila sembari melepas cadar yang sejak tadi menutupi wajahnya.

“Untungnya sudah sampai rumah. Kalau terlambat sedikit saja, bisa-bisa jadi tontonan santri ikhwan kamu nanti.”

Naila melirik arloji yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Hm, sudah hampir masuk waktu Ashar. Sebentar lagi santri-santri akan berbondong-bondong menuju masjid yang berada tepat di depan rumahnya. Membayangkan dirinya datang terlambat dan harus berjalan di antara para santri ikhwan itu membuat Naila bergidik.

“Iya, Mas. Insya Allah Naila nggak akan pulang terlambat lagi. Abi Umi ke mana, Mas..? Kok sepi sekali..?”

“Abi ada di masjid. Ummi di dapur pondok menyiapkan makan malam santri nanti.” Naila hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.

“Naila mau mandi dulu ya, Mas.” katanya.

“Ya, cepat sana! Sebentar lagi jama’ah Ashar.” kata Furqon mengingatkan. Naila mengangguk mengiyakan.

***
Selepas Ashar, semua santri tinggal di dalam masjid untuk mendengarkan ta’lim. Beberapa santri yang dipercaya oleh abinya akan memberikan ta’lim secara bergilir di mimbar masjid. Jika Naila berada di rumah, ia selalu meluangkan waktu untuk ikut mendengarkan. Tapi Naila hanya mendengarkan dari balik tirai yang ada di ruang tamu rumahnya. Ia tak mungkin bergabung di masjid dengan para santri yang notebene ikhwan semua.

Isi ta’lim kali ini sangat menarik. Penyampaiannya lugas, padat, dan terasa menggelitik. Sesekali, santri yang menyampaikan ta’lim berkelakar ringan. Namun, tetap tidak melanggar batas kesopanan. Naila tersenyum simpul mendengarnya. Dalam hatinya berkata, hmmz.., bisa juga santri abi yang satu ini.

“La…,” Seseorang memanggil namanya. Siapa lagi kalau bukan Mas Furqon.

Naila menoleh pada kakaknya yang menghampirinya. “Kenapa, Mas..?”

“Kamu ini lho, La. Senyum-senyum sendirian di ruang tamu.”

Naila tersipu malu. “ Ta’limnya lucu, Mas. Yang tugas ta’lim siapa, sih..?”

“Hijar.”

Naila mengernyitkan dahinya. “Akhi Hijar? Sepertinya baru kali ini dengar namanya.”

“Dia baru beberapa minggu ikut ta’lim di sini, tapi sudah jadi murid kesayangan abi.”

“Oh,” mulut Naila membulat kecil, “Santri baru ya..?” tanya Naila.

“Bukan. Dia mahasiswa yang ikut ta’lim sore sampai malam.”

“Mahasiswa..? Mahasiswa mana, Mas..?” Seketika Naila menjadi tertarik.

“Kalo nggak salah, politik UNS.”

“Kok bisa ikut ta’lim di sini, Mas..?”

“Dia pengurus ta’lim di kampusnya. Tiap pagi ada ustadz pondok yang memberi ta’lim di masjid kampusnya. Awalnya, dia hanya sebagai koordinator antara pondok dengan kampus saja, tapi lama-kelamaan jadi sering ikut ta’lim di sini juga.”

Naila mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. “Dia setiap hari datang ke sini, Mas..?” tanya Naila dengan nada tak percaya.

Furqon mengangguk. “Biasanya dia ikut jama’ah Ashar di sini. Ba’da Isya’ baru dia pulang, tapi sebelum pulang pasti ngobrol dulu dengan abi. Paginya kadang dia menjemput ustadz di sini untuk mengisi ta’lim di kampusnya.”

“Subhanallah…, semangat sekali dia.” Naila berdecak kagum.

“Ya, sangat luar biasa. Dia ikhwan yang menarik. Ibarat Umar bin Khattab. Sikapnya keras dan tegas, tapi hatinya sungguh lemah lembut.”

Naila terpana dengan perumpamaan yang dibuat kakaknya. Seperti Umar bin Khattab? Tidak berlebihankah perumpamaan kakaknya itu? Tapi, kakaknya bukan seorang pembual. Pendapat kakaknya tentang ikhwan bernama Hijar ini menjadi penyulut rasa ingin tahu Naila. Naila bergumam. “Memangnya dengan abi ngobrol apa, Mas..?”

“Banyak, kadang-kadang justru membicarakan kegiatan kampus, masalah pribadinya, atau tentang akhwat.”

“Akhwat..?” Naila terkejut mendengarnya. Furqon hanya mengangguk. “Apa abi sudah menyiapkan akhwat untuknya, Mas?” tanya Naila dengan rasa penasaran yang jelas tidak bisa ia sembunyikan.

Furqon diam sebentar, merasa aneh dengan reaksi adiknya. “Mas masih belum tau, tapi bukannya abi memang selalu menyiapkan akhwat dari keluarga kita untuk santri-santri favoritnya. Apalagi ikhwan yang satu ini jadi murid kesayangan abi. Dia sudah seperti anak kandung abi saja. Bahkan abi pernah bilang seperti ini ke ummi, pasti menyenangkan kalau Hijar jadi anak kita.”

Naila tersentak. Akhi Hijar jadi anak abi dan ummi. Jangan – jangan… Jantung Naila berdegup sangat kencang.

“Tapi, Hijar sering sekali menceritakan akhwat yang ada di kampusnya. Kalau tidak salah, namanya Hana. Dia koordinator akhwat di masjid kampusnya.” kata Furqon melanjutkan.

Seketika jantung Naila seakan dipaksa untuk berhenti berdetak. “Seorang akhwat..? Calonnya, Mas..?”

“Sepertinya begitu.”

“Lalu akhwat yang dipersiapkan abi..?” Naila terus mendesak.

“Kurang tau. Sementara ini abi masih mencari informasi tentang akhwat yang diceritakan Hijar sambil beliau juga menentukan kira-kira siapa akhwat dari keluarga kita yang tepat untuknya.” kata Furqon, “Sudah, ah. Kamu ini, baru dengar namanya saja sudah tanya macam-macam. Terlalu panjang ngobrol sampai lupa mendengarkan ta’lim kan.”

Naila tersipu malu. Wajahnya memerah disindir begitu. Furqon meninggalkan Naila yang kembali terdiam mendengarkan ta’lim. Tapi pikiran Naila tak bisa konsentrasi dengan materi yang disampaikan. Rasa ingin tahu Naila terusik. Ikhwan yang satu ini berbeda dengan ikhwan kesayangan abi lainnya. Dia seorang mahasiswa. Ikhwan yang kata kakaknya seperti Umar bin Khattab. Ikhwan yang sangat disayangi abinya, hingga beliau ingin agar ia menjadi anaknya. Seperti apa dia sebenarnya? Naila makin terhanyut dengan rasa penasarannya.

***
Rembulan semakin merangkak naik. Kultum rutin setiap ba’da sholat Isya’ yang disampaikan oleh Ustadz Jamaluddin baru saja berakhir. Seluruh santri bergerombol keluar dari masjid menuju ruang makan untuk menyantap hidangan yang telah disiapkan. Masjid yang semula padat dan riuh mendadak sepi.

Naila duduk di ruang tengah sembari membaca buku tafsir hadits yang menjadi koleksi abinya. Ia menikmati keheningan yang tercipta di sekeliling rumahnya. Suara jangkrik yang bertasbih di luar sana, menciptakan suasana syahdu yang semakin mendayu. Di tengah kesunyian yang meneduhkan, sayup – sayup terdengar suara langkah kaki yang mendekat menuju rumahnya. Naila mengintip dari balik tirai jendela. Matanya menangkap bayangan abinya, Mas Furqon, dan seorang ikhwan. Siapa dia? Ikhwan itu terlihat santun berjalan berdampingan dengan abi dan kakaknya. Naila segera menutup tirai jendela. Dia kembali melanjutkan membaca buku. Tiba-tiba Furqon menyibak tirai yang membatasi ruang tamu dan ruang tengah rumahnya.

“Ah, kebetulan kamu di sini, La. Tolong buatkan teh manis tiga ya. Kalau ada kue-kue juga boleh deh.” pinta Furqon.

Naila menutup bukunya, “Siapa tamunya, Mas..?” tanya Naila.

“Hijar”

Naila tercekat. Nafasnya seakan berhenti di tenggorokan. Rasa penasaran yang dari tadi sore menyelimuti hatinya semakin menyeruak. Naila bergegas ke dapur menyiapkan hidangan. Hati dan pikirannya tak menentu. Nampan yang dibawanya dari dapur bergetar karena tangannya gemetar. Langkah kaki Naila sangat perlahan. Di batas tirai antara ruang tengah dan ruang tamu, Naila berhenti. Dia mengetuk papan untuk memberi kode pada kakaknya. Ya, begitulah yang diajarkan abi dan umminya. Jika tamu seorang ikhwan, ia tak boleh menampakkan diri. Ia hanya diperbolehkan membawa hidangan hingga batas tirai pemisah.

Tak berapa lama, kakaknya menyingkap tirai. Dia mengambil nampan yang ada di genggaman tangan Naila dan mengucapkan terima kasih. Tepat pada saat itu, terdengar suara abi Naila yang bertanya, “Bagaimana akhwat kampusmu itu, Jar?”

Seketika Naila mematung di balik tirai. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Dia merapatkan tubuhnya pada papan dan mempertajam pendengarannya.

Terdengar sebuah suara, “Masih sulit, ustadz.” Suara itu…, entah mengapa menggetarkan saraf-saraf di sekujur tubuh Naila.

“Diminum dulu, Jar.” kali ini suara Mas Furqon. Suasana hening sejenak. Terdengar suara cangkir yang beradu dengan tatakannya. Naila menanti keheningan ini dengan resah. Ia tak sabar mendengar percakapan selanjutnya.

“Akhwat yang lain masih banyak kan, Jar.” Suara abi terdengar lagi, tapi tak ada jawaban dari Hijar. “Kalau mau, Ustadz bisa mencarikan untuk antum.”

Naila semakin resah. Ruang tengah yang luas terasa sempit dan menghimpitnya.

“Syukron, Ustadz. Ana masih ingin menunggu dulu.” Kata-katanya terdengar tegas. Tungkai Naila terasa lemas. Tangannya berpegangan pada papan yang ada di hadapannya.

“Kalau jadi bagian keluarga ustadz, mau tidak..?” Abi masih mendesak.

“Wah, sebuah kehormatan yang besar sekali jika ana bisa seperti itu, Ustadz. Tapi untuk saat ini…”

“Sebenaranya ustadz ingin sekali antum jadi bagian keluarga ini, apalagi seandainya bisa jadi anak ustadz.” Abi memotong kata-kata Hijar. Naila tersentak. Jantungnya berdegup tak karuan.

“’Afwan, Ustadz. Maksud Ustadz..?” Hijar bertanya dengan sopan.

“Di keluarga ustadz masih banyak akhwat yang belum menikah. Putri semata wayang ustadz juga belum. Seandainya antum mau…”

“Naila…,” tiba-tiba sebuah suara memanggil Naila. Naila terkejut mendapati umminya sudah berada di ruang tengah berjalan ke arahnya.

“I…iya, Ummi.” Naila tergagap. Ia berjalan menjauh dari tirai dan menghampiri umminya.

“Ayo bantu ummi membereskan ruang makan. Santri-santri sudah keluar semua dari sana, tapi tetap pakai cadarmu ya.” ajak ummi Naila.

Naila mengangguk. “Baik, ummi.” Naila mengekor di belakang umminya, berjalan menjauhi ruang tamu. Masih didengarnya sayup-sayup suara Hijar, tapi ia tak dapat menangkap apa yang Hijar katakan.

***
Semakin hari, Naila semakin dibayangi oleh pesona Hijar di mata keluarganya. Naila tersiksa. Dia dilanda gelisah dan penasaran yang luar biasa. Naila semakin banyak tau tentang Hijar, tapi hanya satu yang tidak dia ketahui yaitu Hana, akhwat yang namanya disebut Hijar. Ada perasaan lain di hati Naila setiap mendengar nama Hana.

Sebuah permintaan yang tak pernah terduga akan dilakukan Naila saat Furqon mendapat giliran mengisi ta’lim di masjid kampus Hijar. Naila mendesak untuk ikut. Abi dan ummi yang biasanya melarang Naila pergi keluar rumah, entah kenapa kali ini mengijinkan. Dalam hati Naila bersorak. Kesempatan ini tak akan ia siakan. Dia harus bisa mengenal akhwat yang bernama Hana di masjid kampus Hijar.

Sesampai di masjid kampus Hijar, Naila bertanya-tanya, mana akhwat yang bernama Hana. Ketika Mas Furqon mulai dengan ta’limnya, Naila justru sibuk mengamati akhwat – akhwat yang mencatat materi ta’lim dengan khidmat. Ada seorang akhwat yang sangat menarik perhatiannya. Dia terlihat anggun. Wajahnya sungguh bersahabat. Usai ta’lim nanti, Naila memutuskan akan mencari tahu tentang Hana dari akhwat ini.

Saat Furqon menutup ta’limnya dengan salam, Naila beringsut mendekati akhwat yang menarik hatinya. “Assalamu’alaikum ukhti.”

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” jawab akhwat itu dengan senyum manis yang terukir di wajahnya. Tiba-tiba Naila merasakan keteduhan yang luar biasa di hatinya.

“’Afwan ukhti, ana ingin bertanya. Di sini ada akhwat yang bernama Hana..?” Naila langsung tembak sasaran saja.

“Ana Hana, ukhti.” jawab akhwat itu lembut. Naila kaget luar biasa. Akhwat yang sungguh memesona ini adalah Hana. Naila tertegun. Apa yang harus aku katakan sekarang.

“Perkenalkan, ana Naila. Adik ustadz Furqon dari Al-Munawaroh.” Naila memperkenalkan diri. Diulurkannya tangan kanannya ke hadapan Hana, yang serta merta dijabat erat oleh Hana. Sebuah kehangatan menjalar dalam diri Naila.

Naila mulai berbasi-basi. Hana sangat membuatnya nyaman. Naila dengan cepat merasa akrab dan cocok dengan Hana. Mereka asyik bercakap – cakap, hingga sebuah dering telepon dari HP Naila mengingatkannya untuk segera pulang.“Senang sekali ana bisa mengenal anti. Ternyata anti memang akhwat menarik seperti yang dikatakan akhi Hijar.”

Hana tercekat. Raut wajahnya seketika berubah. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Anti membicarakan akhi Hijar..?”

Naila dan Hana terdiam. Mereka saling menatap. Kehangatan yang tercipta selama percakapan mereka sebelumnya seakan sirna terhirup sorotan tajam mata mereka. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sibuk menilai apa pula yang ada dalam pikiran lawan bicaranya.

“Ya. Sebenarnya ana memang ingin tau tentang anti. Akhi Hijar sering sekali menceritakan anti pada abi. Kalau tidak salah, anti calon Akhi Hijar..?”

“Bukan.” Spontan Hana menjawab pertanyaan Naila. Kening Naila berkerut.

“Tapi kata akhi Hijar…” Naila menggantung kata-katanya. Dia tak tau harus berkata apa. Hana tetap diam. Senyum manisnya telah sirna dari wajahnya. “Atau anti tidak menerimanya..?”

Pertanyaan Naila menyudutkan Hana. Ia merasa tak nyaman. Hana menundukkan kepala untuk menutupi kegelisahan yang terpancar dari wajahnya. Dia menghela nafas berat.

“Akhi Hijar memang sering dibicarakan di keluarga ana. Abi ingin dia menjadi bagian keluarga kami. Setahu ana, akhi Hijar hingga saat ini belum memberi kepastian karena masih menunggu anti.” Naila akhirnya berterus terang.

Wajah Hana semakin tertunduk. Perlahan akhirnya ia memberi jawaban. “Ana memang tidak memberi jawaban pada akhi Hijar.” kata Hana dengan lesu.

“Kenapa..?” Naila mendesak ingin tahu.

Hana kembali tertunduk dan menghela nafas berat. Sunyi menyelimuti Hana dan Naila. Namun tiba-tiba terpecah oleh dering HP Naila.

“’Afwan, Ukh. Ana harus pulang sekarang.” Naila menghela nafas. “Kalau boleh, lain kali ana akan menghubungi anti.”

Hana mengangguk dengan senyum yang seperti dipaksakan. Mereka kembali berjabat tangan erat.

Naila melangkah keluar dari masjid dan menghampiri Furqon yang sudah menunggunya sejak tadi. Perasaan Naila campur aduk. Dia bingung dengan sikap diam Hana saat mendengar nama Hijar. Tapi, mendengar perkataan Hana bahwa dia tidak memberi jawaban pada Hijar dan sikapnya yang dengan tegas mengatakan dia bukan calon Hijar, menimbulkan kelegaan di hati Naila.

***
Hari – hari Naila terlewati dengan harapan yang penuh ketidakpatian. Semenjak pertemuan Naila dan Hana di masjid kampus, hubungan mereka menjadi semakin akrab. Beberapa kali mereka saling mengirim SMS dan menelepon. Banyak hal yang mereka bicarakan. Mulai dari sekedar bertukar pendapat atau membicarakan Hijar. Namun, topik terakhir inilah yang lebih sering menjadi bahan utama obrolan mereka.

Naila semakin hari semakin banyak tahu tentang Hijar, baik dari sudut pandang keluarganya maupun Hana. Satu hal yang selama ini masih mengusik hati Naila yaitu tentang penantian Hijar dan jawaban apa yang sebenarnya ada di dalam hati Hana.

Hana sendiri selalu mencoba menutup rapat kata hatinya. Ia tak ingin seorang pun tahu apa jawaban yang sebenarnya akan ia sampaikan pada Hijar. Hana menyadari, Hijar menunggunya dan keluarga Naila justru menunggu Hijar. Tapi, dia tetap ingin menjaga hatinya sendiri. Hana merasakan bahwa Naila sebenarnya mengharapkan Hijar. Namun, ia tak pernah menyinggung hal itu karena ia pun tak ingin perasaannya disinggung oleh Naila.

Rasa penasaran yang masih ada dalam hati Naila membuatnya semakin sering pulang ke Al-Munawaroh. Secara sengaja, terkadang dia menyesuaikan kepulangannya dengan hari di mana Hijar mendapat giliran mengisi ta’lim ba’da Ashar di masjid pondoknya. Demikian pula hari ini. Sejak sebelum Ashar ia sudah menunggu di ruang tamu. Kebetulan dia sedang berhalangan sholat sehingga dia hanya tinggal menanti ta’lim saja dan tidak ikut sholat berjama’ah.

Dalam penantiannya itu, pintu depan rumahnya diketuk seseorang. Terdengar suara ikhwan yang mengucap salam. Naila panik. Rumah kosong karena semua sudah bergegas ke masjid. Terpaksa ia harus menerima tamu ikhwan itu. Dengan tangan gemetar, dibetulkannya cadarnya dan dibukanya pintu rumah hanya sedikit saja.

“Wa’alaikumussalam. ‘Afwan, sedang tidak ada orang di tumah. Dengan siapa ini..?” tanya Naila di balik pintu. Abinya mengajarkan agar ia tidak mempersilakan masuk ikhwan yang bukan mukhrimnya. Apalagi saat ini ia berada di rumah seorang diri.

“Ana Baarid, sahabat dekat Hijar.”

Naila hamper tersedak. Hijar lagi. Kenapa terasa kebetulan seperti ini. “Ada perlu apa..?”

“Ana hanya disuruh mengembalikan buku yang dipinjam Hijar. Katanya bukunya akan dipakai ustadz. Sekaligus ingin memberitahukan kalau dia tidak bisa mengisi ta’lim hari ini.”

Naila sedikit kecewa. Yah, aku tak bisa mendengar ta’lim Hijar hari ini. Dia menghela nafas. “Tafadhol bukunya ditaruh di depan pintu saja biar nanti ana ambil.” kata Naila memberi instruksi. Dia memang tidak ingin mengulurkan tangan dan membiarkan tamu ikhwan itu melihat tangannya.

“Na’am. Tapi ‘afwan, ana bertemu dengan siapa ini..? Agar ana bisa meyakinkan Hijar kalau bukunya sudah ana kembalikan.”

“Naila” ujar Naila singkat.

“Masya Allah, Naila putri Ustadz Jamaluddin kan..? Hijar sering sekali membicarakan anti.” Naila tersentak. Hijar sering membicarakan dirinya dengan sahabatnya…? Apa yang mereka bicarakan..? “Subhanallah. Ana tidak menyangka, baru pertama kali ke Al-Munawaroh bisa langsung bertemu dengan anti. Sungguh semua karena kehendak Allah.” Suara itu terdengar sumringah. Ada perasaan senang dan bangga dalam getaran suaranya.

Naila hanya terdiam. Dia masih menerka-nerka pembicaraan Hijar dengan Baarid. Sampai sejauh mana pembicaraan mereka, hingga Baarid terlihat begitu senang bisa mengenalnya.

Suara adzan Ashar berkumandang dari corong pengeras suara masjid Al-Munawaroh. Baarid mengundurkan diri. Dia mengucap salam dan bergegas bergabung dengan jama’ah yang telah berkumpul di masjid. Naila meraih buku yang ditinggalkan Baarid di muka pintu. Lama ia mematung di balik pintu hingga akhirnya ia memutuskan akan mencari tahu tentang Baarid melalui Hana. Barangkali saja Hana mengenal ikhwan bernama Baarid yang menjadi sahabat dekat Hijar.

Sore itu juga, Naila menanyakan ikhwan yang bernama Baarid kepada Hana. Dia menceritakan kedatangan ikhwan itu dan mengatakan kalau ia sering dibicarakan oleh Baarid dan Hijar. Sebuah kebetulan, Hana pun mengenal Baarid. Sebenarnya Baarid bukan teman kampusnya, tapi ia cukup mengenalnya karena Baarid sering menemani Hijar dalam urusan dakwahnya. Ada seseorang yang berkata padanya bahwa Baarid sering datang ke masjid kampus karena sebenarnya ingin tahu akhwat seperti apa yang diinginkan sahabatnya. Tapi hal itu tak akan ia ceritakan pada Naila. Ia hanya memberitahu sebatas siapa itu Baarid.

***
Sejak sore saat Naila dan Hana membicarakan Baarid, Hijar jarang terlihat di masjid kampus. Hana yang menjadi koordinator akhwat sedikit merasa kewalahan dengan ketidakhadiran Hijar sebagai koordinator ikhwan. Beberapa hari ia mencoba mengatasinya sendiri. Namun, setelah hampir satu minggu, Hana terpaksa menanyakan kepada ikhwan yang lain.

“Assalamu’alaikum.” Hana mengucap salam dibalik tirai yang menjadi hijab jama’ah ikhwan dan akhwat.

“Wa’alaikumussalam.” Seorang ikhwan menjawab, tapi bukan Hijar.

“’Afwan, ana dari koordinator akhwat ingin menanyakan mengenai koordinasi di pihak ikhwan. Setau ana, koordinator ikhwan jarang terlihat akhir-akhir ini. Jika bisa, ana ingin meminta bantuan untuk koordinasi ta’lim dari ikhwan yang lain.”

“Ya, diusahakan.”

“”Afwan, jika boleh tahu, kenapa akhi Hijar jarang terlihat akhir – akhir ini?” Hana bertanya perlahan. Dia ingin tahu, tapi tidak ingin timbul fitnah dari pertanyaan pribadinya itu.

“Katanya, dia sedang sibuk menyiapkan walimahan.”

Hana tersentak. Jawaban itu bagaikan petir yang menggelegar. Sebuah kilat terasa menyambar dirinya. Hatinya bergemuruh. Tidak!!! Walimah? Akhi Hijar akan menikah?! Hana mendadak linglung. Dia beringsut di sudut masjid, masih tidak menyadari dengan apa yang ia dengar. Benarkah akhi Hijar menikah? Dengan siapa? Sebersit kemungkinan terlintas di hati Hana. Naila! Ya, pasti Naila.

Hana menghubungi HP Naila, tapi tidak ada jawaban. Beberapa kali ia ulangi, hasilnya tetap sama. Hana mencoba mengirim SMS, namun balasan tak kunjung tiba. Hana kalut. Di tengah kerisauan hatinya, sebuah SMS masuk tertera di layar HP-nya. SMS Naila.

“’Afwan, ukhti Hana. Ana tidak tau tentang akhi Hijar. ‘Afwan ya baru bisa balas SMS-nya. Ana dalam perjalanan pulang ke Solo ini, ukh. Mendadak abi meminta ana pulang. Katanya ada yang ingin menemui ana pagi ini.”

Air mata menetes menjatuhi pipi Hana. SMS dari Naila membuatnya merasa hampa. Naila diminta pulang abinya karena ada yang ingin menemuinya. Mungkinkah pagi ini Naila akan dikhitbah oleh Hijar? Hana lemas, bersandar di dinding menyadari apa yang tengah terjadi. Diingatnya perkenalannya dengan Naila, apa saja yang dikatakan Naila. Tentang perkataan Naila bahwa keluarganya menginginkan Hijar, tentang Naila yang ingin tau penantian Hijar, tentang kedatangan Baarid yang mengatakan dia sering membicarakan Naila dengan Hijar.

Naila kembali tersentak. Mungkinkah kedatangan Baarid ke Al-Munawaroh saat itu memiliki maksud yang sama dengan kedatangannya di masjid kampus. Jangan-jangan ia datang karena penasaran dengan Naila. Mungkinkah Hijar sebenarnya menyuruh Baarid datang ke sana untuk meminta pendapatnya..?

Hana semakin nelangsa. Hatinya terasa sakit bagai teriris pisau. Dia meratapi ketidakjujurannya selama ini. Menangis kecewa karena tidak segera mengiyakan tawaran Hijar saat itu. Menangisi kekalahannya karena menyia-nyiakan penantian Hijar. Hana hanya bisa meratap.

Lama Hana teremenung di sudut masjid. Dia menangis menocba mengikhlaskan segala keputusan kepada Yang Maha Kuasa. Di tengah munajatnya, sebuah SMS kembali tertera di layar HP-nya. Lagi-lagi Naila. Hana membuka dengan lemah.

“Ukhti, pagi ini ana dikhitbah. Tadi Akhi Hijar dan Akhi Baarid datang ke sini. Ana dikhitbah oleh Akhi Baarid. Insya Allah ijab qabul dua hari lagi. Ukhti, ana ingin berpesan untuk anti. Jangan pernah sia-siakan penantian akhi Hijar pada anti.”

Air mata Hana makin deras mengalir. Tapi kali ini diiringi dengan senyum tulus yang terpancar dari hati.

 “cinta tak pernah meminta tuk menanti namun ia mengambil kesempatan dalam penantian di pelataran harapan..”

~ oleh Vandi Al-faqir pada 03/12/2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: