Apa Arti tangismu

Masih ada segenggam kebahagiaan dalam diriku. Kebahagiaan yang selalu diiringi aliran air mata kerinduan akan hadirnya bidadari-bidadari tercinta dalam peristirahatan yang kekal kelak. Semakin basah hatiku oleh tangisan-tangisan jiwa, pengharapan yang tak pernah lelah akan datangnya cinta.

Dari dalam ruang tengah kudengar suara Nisa, istriku, “Adek makannya yang banyak ya. Biar cepet gede dan bisa main dengan umi sama abi. Trus kita belajar ngaji, salat berjemaah, juga nangis bareng-bareng dalam munajat. “Sambil mengelus-elus perut yang semakin membesar, Nisa terus saja berceloteh seakan sedang berkomunikasi langsung dengan janin yang dalam hitungan hari lagi akan menghirup udara dunia.

Memperhatikan perilaku Nisa, aku hanya bisa tersenyum geli dan tentu saja ada bahagia di sudut hatiku ini. Bukankah sebuah perasaan yang tidak berlebihan karena bagi kami ini adalah sebuah penantian, ujian kesabaran dalam perkawinan yang hampir menginjak tahun ke delapan berupa kehadiran amanah Allah, ananda tercinta. Makhluk sombong manakah yang berani menolak kehadiran buah hati yang dengan keberadaannya kehidupan berumah tangga akan semakin berwarna. Warna-warni dalam kanvas kehidupan dalam bingkai takwa.

Betapa aku teringat hari-hari sebelum kehamilan Nisa ini. Waktu yang begitu sepi. Aku yang selalu berada dalam rutinitas pekerjaanku larut dalam kesibukan dalam upaya melepaskan diri dari tekanan-tekanan opini negatif, baik dari keluarga besar ataupun dari tetangga. Apalagi Nisa yang berkutat di rumah sembari menekuni bisnis rumahan, membayangkan pun aku tak sanggup bagaimana beban perasaannya ketika selalu ditanyakan perihal anak.

Bila pada tahun-tahun pertama pernikahan kami mungkin belum terlalu menjadi masalah, tapi ketika tahun ke tiga, ke empat, ke lima bahkan ke enam penantian itu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan kehadiran bayi kecil kami, hal yang sangat manusiawi kalau akhirnya kesedihanlah yang melanda.

Aku dan Nisa hanya bisa berpasrah dan memiliki persepsi positif kepada Sang Maha Memberi. Mungkin kami adalah makhluk yang dipilih untuk menjalankan cobaan ini karena dinilai mampu untuk melewatinya. Oleh sebab itu, kami tidak pernah lelah menanti, mengadukan dan memohon dalam doa-doa di atas sajadah kami yang selalu basah oleh bulir-bulir bening dari mata kami tiap malamnya. Ini juga yang selalu menguatkan dan memberikan pancaran semangat batin yang luar biasa serta bentuk ketabahan untuk tidak egois dalam menyikapi alunan lirik-lirik kehidupan yang terus berputar walaupun tetap saja sebagai manusia biasa kesedihan itu tidak bisa sirna sepenuhnya.

“Umi lucu ya, dek. Masa adek lagi tidur diomelin,” suaraku mengagetkan Nisa.

“Ih, Abi itu yang lucu, belum lahir juga udah diajak ngobrol!” Nisa menimpali.

Serentak kami terpingkal memecah keheningan malam. Tawa bahagia yang sudah lama tidak hadir di tengah-tengah kami.

02.30 dini hari.

“Bi, salat yuk. Bangun dong, nanti ga dapet doanya malaikat loh. Adek, bangunin abi gih. Abi-Abi, bangun dong.” Nisa menirukan suara anak-anak sembari memegangkan tanganku pada perut besarnya.

“Adek mau salat juga?” tanyaku dengan suara manja.

“Ih. Abi! Bangun dong!” Nisa sok galak.

“Iya, iya. Abi bangun nih.”

Dengan langkah berat kuayunkan kakiku ke kamar mandi. Saat kubasuh setiap mili anggota tubuh ini, kurasakan sejuknya air yang seakan-akan melunturkan kotoran-kotoran dosa yang turut mengalir bersama air wudu.

Rakaat kedua baru saja selesai. Sepintas kuamati wajah Nisa yang terbungkus rapi dengan mukena. Sangat berbeda dengan keadaan sebelumnya. Wajahnya teduh dan meneduhkan siapa saja yang menatapnya, tanda penyerahan jiwa yang tulus. Sebuah bentuk kesadaran pada kesalahan yang tak perlu terulang. Keanggunannya terbias mengalahkan senyum Monalisa dalam lukisan yang melegenda itu.

Kami lalui rakaat demi rakaat dalam kekhusyukan yang berteman dingin malam. Hingga tak terasa subuh sudah mengintip dari lorong sang waktu. Aku pamit untuk salat subuh di masjid sebelum sempat terdengar suara azan.

“Zikirnya jangan lama-lama ya, Bi. Umi merasa ini sudah waktunya.”

“Insya Allah.” Kutinggalkan Nisa sendiri yang dengan matanya terus mengikuti langkahku sampai kejauhan.

10.05

Semakin gelisah aku memandangi waktu yang terus berlari di pergelangan tanganku. Seorang bapak di sampingku hanya tersenyum tipis melihat kegelisahanku ini. Aku sudah mengalaminya beberapa kali, mungkin demikian kata hati sang bapak kepada diriku. Tiga orang anak di sampingnya. Yang tertua kurang lebih usia siswa SMA, sedangkan yang kedua dan ketiga masih umur anak SD kelas V dan III. Beberapa menit yang lalu kami terlibat dalam percakapan yang cukup akrab, tapi belakangan ia membiarkanku larut dalam pikiran dan gelisahku sendiri. Ingin rasanya menemani Nisa dalam kesakitannya, menguatkan hatinya. Tapi wajah yang pasrah itu memohon kepadaku untuk menunggu di luar karena ia tidak ingin membuatku ikut merasakan derita. Hampir lupa, aku belum duha.

Setelah berpamitan dengan si bapak, aku melangkahkan kaki ke musala rumah sakit ini. Aku harus membantu Nisa dengan cara yang lain, yang mungkin justru kekuatannya lebih kuat daripada kehadiranku di sisinya, doa.

Kupasrahkan diriku tunduk kepada-Nya dalam setiap rakaat. Kurasakan zikir alam semesta yang juga tak kuasa untuk melakukan prosesi sembah. Kurasakan sinar matahari di pagi hari, bulan yang setia mengiringi bumi, siang dan malam dengan rutinitasnya, kekayaan bumi, keluasan langit. Dan tak kutemukan satupun alasan untuk berbuat ingkar kepada Yang Mahatinggi. Semakin terlarut dalam semua itu, semakin aku merasa kecil sebagai seorang makhluk dan semakin berpasrah juga akan apa pun yang akan terjadi pada istri dan anakku.

“Ya Allah, hamba menyerahkan segala urusan hanya pada-Mu. Hidup mati kami, keselamatan istri dan anakku berada di tanganmu sepenuhnya. Tiada kuasaku sedikit pun untuk berpaling dari keputusan-Mu. Namun kiranya hamba memohon suatu kebahagian yang lengkap, mohon agar Engkau memberikan kami kesempatan untuk berkumpul sejenak di dunia-Mu dalam rangka saling membagi kasih sayang dan cinta dalam koridor keridaan-Mu. Kalaupun Engkau berkehendak lain, hamba rela apabila kami hanya bisa berkumpul di alam-Mu yang kekal kelak, amin.” Kututup doaku dengan mengusap linangan air mata yang membasahi pipiku sedari tadi. Aku harus membasuh wajahku sebelum bertemu Nisa di ruang persalinannya agar terlihat tegar.

Bismillahirrohmaanirrohiim. Kutinggalkan musala untuk kembali ke ruang persalinan. Kulihat bapak teman ngobrol tadi masih dengan ketiga anaknya. Serta-merta ia menyambutku dengan berita gembira darinya. “Alhamdulillah, Pak, anak dan istri saya selamat,” katanya. Aku mengangguk dan memberikan seyumku yang tidak direkayasa.

“Mohon doanya untuk keselamatan istri dan anak saya juga, ya Pak.”

“Insya Allah.”

Kukeluarkan MP3 player dari sakuku. Headset kupasang di telinga. On, select menu, select folder Alquran, select file Q.S. 4 (An-Nisa), play. Mulai terdengar suara merdu Syekh Abdullah Al Mathroed melantunkan ayat-ayat suci. Sejuk hatiku menyimak ayat per ayat. Belum sampai ayat ke sepuluh, terdengar suara seseorang memanggil namaku.

“Suami dari ibu Nisa?” suara tersebut terdengar lagi.

“Saya suster,” aku mengacungkan tangan cepat-cepat seperti waktu SMP dulu ketika berebut pertanyaan dari guru biologi.

“Benar Anda suami dari Ibu Nisa?” perawat wanita berseragam putih-putih itu mengulangi pertanyaannya.

“Benar saya, Sus. Bagaimana keadaan istri dan anak saya Suster?” hatiku diliputi penasaran.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Maaf, Pak, kami sudah berusaha dengan keras, tapi takdir Allah berkehendak agar sang ibu mendahului bapak dan kita semua. Anak bapak perempuan, sehat, dan lahir dengan normal.”

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” tak kuasa air mataku langsung tumpah.

“Silakan kalau bapak mau masuk ke dalam,” suster itu menutup percakapan kami.

Berat langkahku menuju ke tubuh Nisa yang jiwanya telah menunaikan janji untuk kembali kepada Rabbnya. Tubuh dan jiwa yang belum lama terpisah itu telah menorehkan berjuta memori dalam kehidupanku. Tubuh dan jiwa yang selama ini menjadi penopangku, penghapus kerinduanku, tempat berbagi kesenangan dan kasih sayang, juga mencurahkan segala duka yang menimpa.

Pandanganku makin kabur oleh air mata ketika jarak kami kurang dari satu meter. Beginikah merasakan sebuah kehilangan atau lebih tepatnya terpisah dari yang selama ini kita rasakan sebagai milik kita? Buru-buru aku beristigfar, bukankah Allah yang lebih berhak mengambil yang memang milik-Nya? Kita tidak memiliki hak sedikit pun untuk menolaknya! Bukankah lafal innalillahi wa inna ilaihi rojiun yang tadi keluar dari bibirku merupakan manifestasi dari kesadaran ini! Bukankah isi doaku tadi adalah bentuk kepasrahan atas apa pun keputusan-Nya! Begitulah pertanyaan-pertanyaan itu timbul begitu saja yang membuat lisanku semakin memperbanyak memohonkan tobat atas kekeliruanku beberapa detik yang lalu.

Kupandangi wajah Nisa lekat, dadaku semakin bergemuruh. Potongan-potongan mozaik memori tentang Nisa tiba-tiba berkeliaran di atas kepalaku. Lalu ada suara yang hanya terdengar oleh telingaku yang mengingatkan bahwa aku tidak boleh larut dalam suasana kesedihan ini karena hanya akan memberatkan jiwa yang baru saja dicabut Izroil ini. Hatiku kemudian melakukan monolognya dalam diam, aku ikhlas ya Rabb.

Kemudian doaku mengalir, “Ya Allah, terimalah dia di sisi-Mu sebagai hamba yang berserah diri, sebagai istri yang tidak pernah membangkang pada suaminya, sebagai ibu yang mengorbankan jiwanya untuk anaknya, sebagai syahidah yang akan menjadi bidadariku di surga-Mu kelak. Kumpulkanlah kami kembali bersama orang-orang yang kami cintai, bersama rasul-Mu, bersama orang-orang yang takwa kepada-Mu. Kabulkanlah ya Rabb, amin.”

Kuedarkan pandanganku ke penjuru ruangan ini. Ada, itu dia bayiku! Kudekati baby box dengan hati yang tetap basah. Subhanallah-subhanallah-subhanallah tak berhenti aku menyucikan nama-Mu. Wajah cilik ini, matanya, hidungnya, bibirnya, tidak ada yang berbeda dengan milik Nisa, ibunya! Lihat, dia tersenyum padaku! Allahu akbar! Senyum inilah yang bagiku mengalahkan monalisa dalam lukisan yang melegenda itu! Sangat identik! Inikah rencana-Mu ya Allah…***

~ oleh Vandi Al-faqir pada 03/12/2010.

2 Tanggapan to “Apa Arti tangismu”

  1. ya allah…
    terharu x bacanya..
    sungguh crta yg indah,bgus,dan bermanffat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: