Pengertian Ikhlas

Pokok atau unsur yang penting dari setiap niat ialah ikhlas. Adapun makna ikhlas itu ialah suci-murni, tidak bercampur dengan yang lain. Menurut istilah Syari’ah (Islam), yang dimaksud dengan makna ikhlas itu ialah mengerjakan ibadah atau kebajikan kerana Allah semata-mata dan mengharapkan keridhaanNya.

Sayid Sabiq merumuskan definisi ikhlas itu sebagai

berikut:

“Bahawa menyengaja manusia dengan perkataannya kerana Allah semata-mata dan kerana mengharapkan keridhaanNya. Bukan kerana mengharapkan harta, pujian, gelaran (sebutan), kemasyhuran dan kemajuan.

Amalnya terangkat dari kekurangan-kekurangan dan dari akhlak yang tercela, dan dengan demikian ia menemukan kesukaan Allah.” (Sayid Sabiq: “Islamuna”, 36).

Di dalam AI-Quran, Allah mengibaratkan ikhlas itu laksana susu yang bersih-mumi, yang enak rasanya apabila diminum, bahkan yang dapat menyihatkan dan menyegarkan badan manusia.

Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya tentang kehidupan binatang-ternak itu menjadi pelajaran bagi kamu. Kami beri minum kamu dengan apa yang ada dalam perutnya; di antara tahi dan darah (didapati) susu yang bersih-murni (ikhlas), mudah dan sedap ditelan oleh orang-orang yang meminumnya.” (An-Nahl: 66).

Pada ayat tersebut Allah memberikan contoh tentang ikhlas itu laksana susu-murni binatang ternak. Sebelum menjadi susu murni, yaitu tatkala masih berada dalam perut binatang, susu itu terdiri dari dua zat yang kotor dan tidak memberikan faedah, yaitu tahi dan darah. Setelah melalui proses, maka terjadilah susu yang bersih-murni, tidak bercampur dengan kotoran dan zat-zat lainnya.

Allah mengibaratkan bahwa sesuatu amal yang ikhlas tak ubahnya laksana susu-murni itu.

Untuk memahami / menangkap pengertian tentang ikhlas itu, kita jelaskan di sini pandangan seorang Ahli Hikmat yang mengumpamakan ikhlas itu laksana air dalam kehidupan tanam-tanaman. Ilmu diibaratkannya seperti benih; dan amal laksana tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan itu barulah berbuah apabila dirawat, disiram dengan air, sehingga menghasilkan buah yang dapat dimakan dan mendatangkan faedah. Maka air dalam kehidupan tumbuh-tumbuhan itu mempunyai peranan seperti ikhlas dalam sesuatu amal atau perbuatan. Artinya, amal yang akan mendatangkan faedah ialah apabila dilakukan dengan ikhlas.

Sebagai natijah dari sesuatu amal yang ikhlas, kita kutib di sini huraian perbandingan Imam AI-Marzabay mengenai seseorang yang sedang mengerjakan shalat (sembahyang). Beliau berkata: “Seorang yang mengerjakan shalat memerlukan empat hal (keadaan), supaya shalatnya itu diterima Allah. Yaitu :

(1)   hatinya betul-betul hadir;

(2)   akalnya turut mempersaksikan;

(3)   mematuhi rukun-rukunnya;

(4)   tekun (khusyu’) anggota-anggotanya.

Barangsiapa yang sembahyang tanpa hatinya hadir , maka shalatnya adalah sia-sia. Barangsiapa yang sembahyang, sedang akalnya tidak turut mempersaksikan (memikirkan), maka dia adalah seorang pelaksana shalat yang lalai. Barangsiapa yang sembahyang tanpa mematuhi peraturan-peraturannya, maka sembahyangnya batal. Siapa yang mengerjakan shalat sedang anggota-anggotanya tidak khusyu’, maka sembahyangnya itu adalah salah.” (Syarah Matan Al-Arba’in an-Nawawiyah, 9).

~ oleh Vandi Al-faqir pada 21/11/2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: