Balasan Terhadap Pencuri & balasan pahala yang berjalan di jalan Allah swt

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ ظَلَمَ قِيْدَ شِبْرٍ مِنَ الْأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ

( صحيح البخاري )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Barangsiapa mengambil tanah milik orang lain walaupun sejengkal niscaya akan dikalungkan padanya tujuh lapis bumi”.( Shahih Al Bukhari )

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذِهِ الْمُنَاسَبَة وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ، وَوَعْدِكَ، مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

“ Wahai Allah..Engkau Tuhanku, Tiada Tuhan selain Engkau, Engkau yang menciptakanku, dan aku adalah Hamba Mu, dan Aku ada pada janji dan sumpah setiaku (syahadat), dan aku berbuat semampuku (menunaikan janji dan sumpahku itu), aku berlindung padaMu dari keburukan yang kuperbuat, aku sadari kenikmatanMu atasku, dan aku sadari pula perbuatan dosa dosaku pada Mu, maka ampunilah aku, karena tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau ”

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي

“ Wahai Allah, Engkau Tuhanku ”

Rabb dalam bahasa Arab memiliki 3 makna , yaitu : Pemilik , Pengasuh dan Tuhan Yang disembah . Ketiga makna ini berpadu pada Rabbul ‘alamin , Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Memiliki, Yang Maha memelihara dan Tuhan Yang Maha disembah . Yang Memelihara kita siang dan malam dan pemeliharaanNya akan lebih indah bagi mereka yang mau memperindah hari-harinya dengan tuntunan Yang maha indah . Wahai Allah, Engkaulah Yang Maha Mengasuhku , dan mengasuh seluruh sel tubuhku , Yang Maha Mengetahui kapan waktuku lahir dan kapan waktuku wafat , Yang Menciptakan ayah ibuku dan seluruh manusia dan menciptakan keturunanku hingga akhir zaman , Kau Maha Melihat dan mengatur kejadian yang pernah terjadi pada ayah ibuku dan seluruh nenek moyangku dahulu hingga kejadian yang akan terjadi pada semua keturunanku kelak , Engkaulah Yang Maha Ada wahai Allah. Engkaulah Yang Maha Mengasuhku dan mengasuh alam semesta, Engkaulah Yang menciptakan aku , aku adalah hamba-Mu dan aku berada dalam sumpah setia kepada-Mu “ Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah ” bahwa aku tidak akan menyembah kepada selain-Mu dan nabi Muhammad adalah utusan-Mu , dan ucapan itu juga merupakan sumpah setia Allah kepada kita , bahwa orang yang tidak menyembah selain Allah dan mengakui nabi Muhammad sebagai utusan Allah , dan sumpah setia Allah adalah jika ia wafat dalam keadaan seperti itu , maka ia telah diharamkan dari api neraka , sebagaimana sabda sang nabi riwayat Shahih Al Bukhari :

مَنْ قَالَ لَاإلهَ إِلَّا الله خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ فَقَدْ حَرَّمَهُ اللهُ مِنَ النَّارِ

( صحيح البخاري )

“ Barangsiapa yang mengucapkan “Laa ilaaha illallah” dengan ikhlas dari hatinya maka Allah haramkan ia dari api neraka ”( Shahih Al Bukhari )

Wahai Allah , terangi hari-hari kami dengan cahaya “Laa ilaaha illallah” . Hadirin hadirat , Dialah Yang menamakan diri-Nya Maha Bercahaya. Detik-detik ibadah adalah detik-detik cahaya , shalat adalah detik-detik cahaya , langkah menuju majelis dzikir atau majelis ta’lim , atau bekerja untuk menafkahi keluarga karena mencari keridhaan Allah maka langkah itu adalah langkah-langkah cahaya , demikian pula ucapan-ucapan dzikir dan doa itulah kalimat-kalimat yang bercahaya , cahayanya tidak terlihat mata namun dilihat oleh Yang Maha menciptakan semua mata , yaitu Rabbul’alamin subhanahu wata’ala . Mata tidak bisa melihat cahaya dzikir yang kita ucapkan , demikian pula langkah kaki kita menuju keluhuran , Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ

“Barangsiapa yang kakinya berdebu di jalan Allah, niscaya Allah akan haramkan baginya api neraka”.

sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari :

مَنْ ظَلَمَ قِيْدَ شِبْرٍ مِنَ الْأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ

( صحيح البخاري )

“ Barangsiapa mengambil tanah milik orang lain walaupun sejengkal niscaya akan dikalungkan padanya tujuh lapis bumi ” .

Di sisi lain , Al Imam Ibn Hajr Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan bahwa yang lebih memberatkan lagi adalah mencuri jalanan muslimin , misalnya; si fulan sudah memiliki rumah didepan rumahnya ada jalan , maka tanah untuk jalanan itu diambil untuk rumahnya, maka dalam hal ini ia akan ditindih dengan tujuh bumi oleh Allah di hari kiamat dan ia akan menyeret tujuh bumi itu untuk menghadap kepada Allah dihadapan seluruh manusia di padang mahsyar , meskipun hanya satu jengkal tanah maka bagaimana jika lebih banyak!? . Hadirin hadirat, kita lihat bahwa bumi ini bisa membawa musibah pada kita walau sampai di akhirah, dan juga bumi bisa membawa rahmah walaupun sampai ke akhirah , apa buktinya? Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tadi saya sampaikan :

مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ

Bukan sejengkal tanah , jika hadits yang sebelumnya adalah sejengkal tanah, tapi dalam hadits ini hanya terkena debunya saja , kemana pun saat kita pergi baik mengendarai motor atau mobil maka kaki pasti akan terkena debunya , kecuali jika kita terbang di udara sampai di majelis mungkin tidak akan terkena debunya , tetapi selama masih di atas bumi walaupun di atas mobil maka kaki akan terkena debunya, dengan mengendarai motor maka lebih banyak debunya , berjalan kaki lebih banyak lagi debunya . Sebagian orang mengatakan bahwa ini adalah untuk orang-orang yang berjihad di jalan Allah , tidak demikian karena Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan bahwa hadits ini diucapkan oleh sang nabi ketika beliau menuju shalat Jum’at , menunjukkan bahwa hal ini dimaksudkan juga bagi orang yang menuju majelis dzikir atau majelis ta’lim , dan jika ia wafat di hari itu maka kakinya telah diharamkan Allah dari api neraka , sebab debu-debu yang ia injak menuju jalan Allah subhanahu wata’ala .

Sang Maha Lembut selalu mengimbangi hal-hal yang memberatkan hamba-Nya dengan hal yang lebih besar meringankan hamba-Nya, demikian indahnya Allah subhanahu wata’ala . Dan Allah subhanahu wata’ala menyampaikan kepada sang nabi dalam riwayat Shahih Al Bukhari , dan sang nabi menyampaikan kepada kita ; “ bahwa orang yang menolong orang lain yang dalam kesulitan , maka ia dijanjikan Allah akan ditolong di hari kiamat , seraya bersabda Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari :

مَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ الدُّنْيَا فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتٍ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

(صحيح البخاري )

“Barangsiapa yang menghilangkan dari seorang muslim suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan menghilangkan dari orang itu suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat.”

Seseorang tidak apa-apa jika tidak dibantu dalam kesulitan dunia, mungkin puncak kesulitan itu akhirnya mati kelaparan, misalnya. Tetapi di akhirat akan berhadapan dengan penjara yang kekal dan abadi, disaat itu pertolongan Allah muncul bagi mereka yang menolong orang lain yang kesulitan di dunia , maka lakukanlah. Menolong orang lain bisa dengan harta , bisa dengan ucapan atau perbuatan , bisa dengan sms , bisa dengan senyum , bisa dengan budi pekerti . Jadi jangan dikelompokkan pada satu hal saja melainkan banyak hal yang semestinya kita bisa menolong orang lain . Terkadang seseorang meremehkan doa , padahal para ahlu ma’rifah billah, para muqarrabin dan shiddiqin dijelaskan bahwa ia mendapatkan seluruh pahala hidayah orang yang bertobat kepada Allah dan orang yang beribadah kepada Allah di segala penjuru dunia, semua orang yang masuk Islam maka ia kebagian pahalanya , semua orang yang beribadah di dunia ia kebagian pahalanya , kenapa? karena ia mendoakan seluruh ummat di dunia ini . Sebagaimana di dalam surah Al Fatihah kita mendoakan orang lain,

إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

( الفاتحة : 6 )

“ Tunjukkan kami ke jalan yang lurus”( QS. Alfatihah : 6)

Kalimat “kami” kita maknakan seluruh penduduk bumi , maka mereka yang masuk Islam , mereka yang mendapat hidayah , mereka yang bertobat , orang shalih yang beribadah , maka kita akan mendapatkan semua pahalanya karena kita mendoakan mereka semua . Dan setiap orang yang mendoakan saudara lainnya maka malaikat berkata :

آمِيْن وَلَكَ مِثْلُهُ

“ Amin , dan untukmu sebagaimana doamu ”

Jika seseorang mendoakan shalihin maka pahalanya kembali kepada dirinya juga, mendoakan orang-orang di luar Islam supaya mendapatkan hidayah kemudian orang itu masuk Islam maka ia mendapatkan pahalanya padahal (mungkin) mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Berapa milyar penduduk bumi di barat dan timur yang mendapat hidayah dan pertolongan dari Allah, mka ia mendapatkan pahalanya hanya karena keluasan hatinya dalam munajat , didalam relung jiwa ia menyeru kepada Allah subhnahu wata’ala. Hati kita ini kecil hanya sebesar gepalan tangan manusia tetapi ia menyimpan rahasia keluhuran Ilahi , rahasia keagungan Rabbul ‘alamin , maka hanya dengan beberapa kalimat yang diucapakan ia bisa merangkul sedemikian banyak pahala karena ma’rifahnya kepada Allah subhanahu wata’ala , Allah jadikan aku dan kalian termasuk diantara mereka , semoga Allah bukakan jiwa kita seluas-luasnya hingga Allah subhanahu wata’ala menjadikan ibadah kita yang sedikit dan tidak berarti, berubah menjadi gelombang yang sangat luas bahkan lebih luas dari samudera . Diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari bahwa Allah Maha Mampu melipatgandakan dosa yang sebesar biji gandum hingga menjadi gunung yang besar , Allah Yang Maha Melipatgandakan , dan bagaimana melipatgandakannya ? tentunya sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya segala perbuatan tergantung pada niat”

Semoga Allah membukakan keluhuran niat kepada kita semua, Amin . Dan janganlah tertipu dengan datangnya musibah , karena kesedihan itu dibalas dengan kebahagiaan yang berlipatganda lebih dari kesedihan itu . Diantara contohnya adalah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari :

مَا مِنَ النَّاسِ مُسْلِمٌ يَمُوْتُ لَهُ ثَلَاثَةٌ مِنَ اْلوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحنَثَ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ

“Tidaklah seorang muslim yang meninggal tiga anaknya yang belum baligh, kecuali Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga berkat kasih sayang-Nya kepada anak-anaknya”

Maka salah seorang sahabat berkata : ” bagaimana jika hanya dua yang meninggal wahai Rasulullah ?” , maka Rasul menjawab : ” Meskipun dua anaknya yang meninggal maka ia diampuni dosa-dosanya oleh Allah dan dimasukkan ke surga” , kenapa ? karena ia telah melewati kesedihan yang berat . Allah tidak tega melihat hamba yang melewati kesedihan yang berat , maka Allah gantikan kesedihan itu dengan kebahagiaan yang kekal . Seseorang yang kehilangan anaknya satu,dua,atau tiga maka kesedihannya akan hilang dalam beberapa tahun dan setelah itu ia akan lupa, tetapi balasan dari Allah atas kesedihan itu akan abadi . Demikian Sang Maha Indah mengganjar setiap kesedihan , maka berbahagialah dan bersenang-senanglah dengan Yang Maha Indah. Jadikan langkah-langkah kita cahaya , ucapan kita cahaya , perbuatan kita cahaya , ibadah kita cahaya, pekerjaan kita cahaya , siang dan malam kita cahaya , dan jika kita terjebak dalam dosa maka mintalah kepada Yang Maha Bercahaya untuk menerangi kita dengan cahaya pengampunannya .

Demikianlah Allah subhanahu wata’ala memuliakan para hamba-Nya . Dan doa serta munajat sangat banyak membuka keluhuran hidup, dan telah kita dengar bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau adalah orang yang paling banyak berdoa , dan beliau bersabda riwayat Shahih Al Bukhari dalam kitab Adab Al Mufrad :

أَعْجَزُالنَّاسِ أَعْجَزُهُمْ عَنِ الدُّعَاءِ

“ Orang yang paling lemah adalah yang paling lemah dari berdoa “

sebagaimana yang telah kita dengar tentang sayyidina Ali Zainal Abidin As Sajjad Ar, beliau digelari As Sajjaad karena setiap malam ia shalat sebanyak 1000 kali sujud yaitu 500 rakaat , dan dalam riwayat lain disebutkan sebanyak 2000 kali sujud yaitu 1000 rakaat . Al Imam Ali putra sayyidina Husain putra sayyidah Fathimah Az Zahra’ Ra dari sayyidina Ali bin Abi Thalib , cucu sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam digelari As Sajjaad karena ia banyak bersujud . Ketika suatu waktu Al Imam Thawus Ar yang datang ke Masjidil Haram ingin shalat di maqam Ibrahim ( sebagaimana yang disunnahkan ), ia melihat ada seseorang yang telah mendahuluinya. Al Imam Thawus ini disebutkan dalam kitab Al Ghurar oleh Al Imam Al Hafizh Muhammad bin Alawy Ar , beliau adalah ulama pada abad ke-9 H . Maka Al Imam Thawus shalat di tempat lain sambil menunggu orang itu keluar dari maqam Ibrahim, tetapi orang itu terus melakukan shalat tiada henti-hentinya hingga mendekati waktu subuh barulah ia berhenti shalat dan terus berdoa lagi , maka Al Imam Thawus ingin mnyingkirkannya supaya bergantian shalat di maqam Ibrahim, tetapi setelah ia pandangi dari arah kiri dan kanannya , iapun mengenalinya dan ternyata orang itu adalah Al Imam Ali Zainal Abidin As Sajjaad putra sayyidina Husain bin Ali , cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , maka ia pun mundur dan mendengarkan doa yang diucapkan oleh sayyidina Ali Zainal Abidin :

عَبْدُكَ بِفَنَائِكَ ,مِسْكِيْنُكَ بِفَنَائِكَ,فَقِيْرُكَ بِفَنَائِكَ,سَائِلُكَ بِفَنَائِكَ

“ Wahai Allah hamba-Mu dihadapan-Mu, hamba-Mu yang miskin dihadapan-Mu, hamba-Mu yang fakir dihadapan-Mu, si pengemis dihadapan-Mu ”

Al Imam Ali Zainal Abidin As Sajjad adalah orang yang juga setiap malam selesai shalat isya’ ia selalu keluar membawa gandum yang dipikul di atas punggungnya kemudian dibagikan kepada anak yatim dan fakir miskin, diletakkan di depan rumah mereka tanpa mereka tau siapa yang memberinya . Dan hal itu diketahui ketika Al Imam Ali Zainal Abidin wafat maka ditemukan di bahunya bekas yang menghitam seperti kuli , jika seorang kuli bangunan yang sering membawa sesuatu dipundaknya maka kulitnya akan menghitam tebal karena selalu memikul beban berat dipundaknya. Tetapi kapan Al Imam Ali Zainal Abidin memikul beban berat?! beliau adalah seorang imam besar yang mulai pagi sampai malam mengajar , ternyata beliaulah yang di malam hari membagi-bagikan gandum kepada setiap fakir miskin di wilayah itu, karena kemudian banyak orang miskin yang mengadu disekitar wilayah yang sebelumnya mereka tidak termasuk dalam golongan fakir miskin , maka si Amir (penguasa) di wilayah itu kebingungan yang ketika itu banyak yang menjadi fuqara, padahal sebelumnya tidak pernah meminta sumbangan dan setelah mereka ditanya , mereka berkata : “ Dulu setiap beberapa hari ketika malam hari selalu ada orang yang menaruh gandum di depan rumah kami tanpa kami ketahui siapa orangnya, dan orang itu tidak ada lagi setelah wafatnya Al Imam Ali Zainal Abidin As Sajjad Ar” , dialah orang itu setelah dilihat dari bekas hitam di bahunya akibat memikul beban yang berat, demikian Al Imam Ali Zainal Abidin . Adapun putra beliau Al Imam Muhammad Al Baqir Ar yang bersambung sanadnya Al Imam Malik dan Al Imam Hanafi kepada beliau , adalah seorang Imam besar yang juga menjadi rujukan luasnya syariah al muthahharah , dan ia juga seorang pendoa yang sangat indah doanya , seorang imam besar yang memiliki ratusan ribu murid dari kalangan para imam, para ulama’ , dan shalihin yang menjadi murid beliau, bagaimana ia lewati malam-malamnya? Ia selalu berdoa :

اَللَّهُمَّ أَمَرْتَنِيْ فَلَمْ أَعْتَمِرْ وَنَهََيْتَنيِْ فَلَمْ أَنْزَجِرْ هَاأَناَ عَبْدُكَ بَيْنَ يَدَيْكَ مُذْنِبٌ مُخْطِئٌ مُقِرٌّ بِذَنْبِيْ فَلَا أَعْتَذِرُ

” Wahai Allah Engkau banyak memberiku perintah tapi banyak yang belum aku kerjakan, Engkau banyak menyampaikan larangan tapi tidak aku tinggalkan, inilah hamba-Mu dihadapan-Mu dalam keadaan berdosa dan bersalah dan aku mengakui seluruh dosaku, dan aku tidak menutupi dosaku dengan alasan apapun”

Demikianlah Al Imam Muhammad Al Baqir Ar, begitupula putranya Al Imam Al Imam Ja’far As Shadiq Ar, seorang imam besar yang ketika berdoa ia berdoa dengan satu nama Allah, maka lisannya terus menyeru “ Ya Rabb , Ya Rabb ” dan tidak berhenti sampai nafasnya selesai , ketika nafasnya selesai ia ganti dengan lafadz yang lain “ Ya Allah , Ya Allah ” terus diserukan sampai nafasnya selesai dan kemudian diganti dengan dzikir asma Allah yang lain, ia ingin melewatkan satu nafas panjang itu berlalu dengan menyebut nama Allah Yang Maha Luhur .

Demikian para shalihin dan para muqarrabin yang selalu mendekatkan kita kepada cahaya kemuliaan doa , kepada keluhuran , kepada munajat , kepada keindahan dunia dan akhirah , sejukkan hatimu dengan doa dan angkat kedua tanganmu satukan jari kelingking kanan dan kirimu ,dan berdoalah kepada Allah dengan air matamu, karena Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحيِيْ مِنْ العَبْدِ إِذَا مَدَّ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا لَا يَضَعُ فِيْهِمَا خَيْرًا

“Sesungguhnya Allah itu Maha Pemalu dan Pemurah, Dia malu terhadap hamba-Nya apabila mengangkat kedua tangan untuk berdoa lalu mengembalikannya dengan tangan hampa tanpa memberikan suatu kebaikan padanya”

~ oleh Vandi Al-faqir pada 21/11/2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: