Tentang Syababul Huda

Assalamu’alaikum wr.wb.
Alhamdulillah segala puji dan syukur kehadirat Allah swt yang telah memberikan kita nikmat iman dan islam,Shalawat serta salam kita haturkan kepada junjunan Nabi Agung kita Nabi Muhammad saw beserta keluarga,sahabat,tabiin nya serta untuk seluruh kaum muslimin dan muslimah. Disini vandi akan menjelaskan keutamaan dan hukumnya bershalawat kepada Rasulullah saw yang dimana jika kita mengaku sebagai umatnya tentu kita harus tau apa itu shalawat dan apa keutamaannya dari shalawat itu,namun sebelum ke pokok pembahasan vandi ingin berbagi koleksi shalawat yang alhamdulillah kumpulan shalawat ini dibawakan oleh grup Marawis Syababul Huda yang di didirikan oleh Habib Fikri Al kaff dan di asuh oleh Ustadz Ahmad shodiq juga Habib Zaky Alaydrus sebagai penasehat,yang insya Allah kumpulan shalawat ini dapat bermanfaat untuk kita dalam mengamalkan keutamaan bershalawat kepada Nabi Muhammad saw sesuai dengan Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah.

Berikut daftar dari kumpulan shalawat Album pertama grup Marawis Syababul Huda dan semuanya Free Download..

Catatan : Untuk mendownload klik banner download dibawah ini dan jika masuk ke halaman sponsor klik saja tulisan SKIP ADD di pojok kanan atas, Semoga bermanfaat..

01 Assalamu’alaik

02 Shalawatullah

03 Daunii Falladzii Ahwaa da’aanii

04 Ya Habibana

05 Ya Rabbana

06 Zayyidil wujud

07 Annaby Shollu ‘alaik

08 Laa illaha ilallah

09 Ya Ala Baitin Nabi

10 Shola’atun

Keutamaan dan Hukum Bershalawat kepada Nabi saw :

“Sesungguhnya Shalawat kepada Nabi saw memiliki kedudukan yang tinggi di dalam hati setiap muslim, dan bershalawat merupakan bagian dari perintah Allah swt, artinya, “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah dengan penuh penghormatan.”(QS. Al-Ahzab: 56)”

Ibnu Katsir rahimahullaah berkata, “Maksud dari ayat ini adalah, bahwa Allah Subhanahu waTa’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya, tentang kedudukan hamba dan Nabi-Nya di sisi-Nya dan di sisi para makhluk yang tinggi (Malaikat). Dan bahwasanya Allah Subhanahu waTa’ala memuji beliau di hadapan para Malaikatnya, dan para Malaikat pun bershalawat kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan penduduk bumi untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam, supaya terkumpul pujian terhadap beliau dari peghuni dua alam, alam atas (langit) dan alam bawah (bumi) secara bersama-sama.”(Tasir Ibnu Katsir Jilid 3 hal 514)

Makna Shalawat Kepada Nabi saw

Abu ‘Aliyah rahimahullah berkata, “Shalawat Allah atas Nabi adalah pujian-Nya kepada beliau di hadapan para Malaikat-Nya, shalawat Malaikat kepada beliau adalah do’a (maksudnya: bahwa para Malaikat memohon kepada Allah tambahan dari pujian Allah kepada Nabi).”

Ibnu‘Abbas radiyallaahu ‘anhuma berkata, “ يصلون/mereka bershalawat, maksudnya adalah mereka mendoakan untuk beliau keberkahan.” (Shahih al-Bukhari Kitab Tafsir bab:10)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, ”Makna shalawat Allah atas Nabi saw adalah pujian-Nya terhadap Rasulullah saw dan penjagaan-Nya terhadap beliau, penampakkan kemuliaan, keutamaan dan kehormatan beliau. Dan shalawat kita kepada Nabi saw adalah, kita memohon kepada Allah swt tambahan di dalam pujian-Nya kepada Rasulullah saw dan penampakkan kemuliaan, keutamaan dan kehormatan beliau serta kedekatan beliau kepada Allah.” (Jalaa’ul Afhaam, hal 261-262)

Hukum Shalawat Kepada Nabi saw

Shalawat terhadap Nabi saw adalah wajib atas setiap muslim, baligh (dewasa menurut kacamata agama) dan berakal, sekali seumur hidup. Adapun selain itu (selain shalawat yang sekali) adalah sunnah yang dianjurkan. (asy-Syifaa, oleh al-Qadhi ‘Iyadh jilid 2 hal 62)

Keutamaan Shalawat Kepada Nabi saw

Banyak sekali hadits yang menjelaskan tentang keutamaan bershalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, di antaranya:

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja yang bershalawat kepadaku satu shalawat, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh.” (HR. Muslim, hadits no.408)

Dari Abu Darda radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Siapa saja yang bershalawat kepadaku sepuluh kali di waktu pagi dan sore, maka dia akan mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat.” (Hadis hasan, Shahih al-Jami’ oleh al-Albani hadits no.6357)

Peringatan Terhadap Orang Yang Meninggalkan Shalawat Secara Sengaja

Imam at-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Terhinalah seseorang yang namaku disebut di sisinya, tetapi dia tidak bershalawat kepadaku.” (hadits shahih, Shahih at-Tirmidzi hadits no.2870)

Beliau juga meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang bakhil (kikir) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.” (hadits shahih, Shahih at-Tirmidzi hadits no.2811)

Beliau juga meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk di sebuah majelis, yang mereka tidak menyebut nama Allah di dalamnya dan juga tidak bershalawat kepada Nabi-Nya, kecuali hal itu menjadi kerugian dan penyesalan, maka kalau Allah menghendaki Dia akan mengadzabnya dan apabila menghedaki Dia akan mengampuni mereka.” (hadits shahih, Shahih at-Tirmidzi hadits no.2691)

Bentuk Shalawat Kepada Nabi saw

Di antara bentuk Shalawat kepada Nabi saw yang paling shahih, yaitu:

Asy-Syaikhan (al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah) meriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ujrah radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami, maka kami berkata, “Wahai Rasulullah saw, kami telah mengetahui, bagaimana mengucapkan salam kepada engkau. Maka bagaimana kami bershalawat kepada engkau..?” Beliau berkata, “Ucapkanlah oleh kalian:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَعَلَى آلِ مُحَمَّد، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدِ، الَلَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّد وَعَلَى آلِ مُحَمَّد، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد. [البخاري حديث 6357، ومسلم حديث 406

Waktu-waktu yang Disunnahkan untuk Mengucapkan Shalawat

Para ulama menyebutkan ada waktu-waktu dan kondisi-kondisi yang disunahkan untuk bershalawat, dan mungkin secara singkat penjelasannya sebagai berikut:

1. Setelah mendengar dan mengikuti ucapan muadzin ketika adzan.

2. Ketika masuk dan keluar masjid.

3. Setelah tasyahud (tahiyat) akhir di dalam shalat.

4. Setelah doa qunut.

5. Di dalam shalat Jenazah setelah takbir yang kedua.

6. Sebelum dan sesudah berdoa.

7. Ketika berkhutbah jum’at, I’ed, Istisqa dan lain-lain (khusus bagi khatib).

8. Ketika disebut nama beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam.

9. Ketika berada di Shafa dan Marwah bagi orang yang sedang Haji atau Umrah.

10.Hari jum’at.

11.Ketika pagi dan sore.

12.Ketika menutup sebuah majelis atau pertemuan (taklim, kajian, pelajaran dll).

13.Ketika menyampaikan pelajaran dan ketika selesainya.

14. Di antara takbir-takbir dalam shalat I’ed (Asy-Syifaa, oleh al-Qadhi ‘Iyadh, dan Jalaaul Afham).

~* Semoga Bermanfaat.. Allahumma shlli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi sayidina Muhammad *~

~ oleh Vandi Al-faqir pada 06/10/2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: